Home BERITA TERBARU Ratusan Warga Sekitar Tambang PT.SP, Hidup Melarat Dan Serba keterbelakangan, Dikemanakan Dana...

Ratusan Warga Sekitar Tambang PT.SP, Hidup Melarat Dan Serba keterbelakangan, Dikemanakan Dana CSR ? (bag 12)

295
0
SHARE

Padang, targetsumbar.net – Kembali melanjutkan pemberitaan sebelumnya, bahwa kampung Ngalau Baribuik, Timbulun dan Sikayan Mansek merupakan sebuah Negeri yang berdindingkan areal tambang batu kapur, yaitu bukit kapur karang putih. Dimana bahan baku semen yang diproduksi oleh perusahaan besar PT Semen Padang, sejak tahun 1910 dikeruk di kampung ini. Namun penghuninya hidup melarat dan terisolir, banyaknya anak-anak yang putus sekolah, pengangguran dan sebagainya. Hal itu sudah menjadi pemandangan biasa dikampung ini.

Ibarat kata bahasa Tetua (Sesepuh) “Dalam kerapuhan dia tetap kelihatan tegar, meski derita hidup semakin berat menerpa, namun harus dijalani walau semangat yang tersisa“. Setidaknya cuma semangat itulah yang dimiliki syafrizal, putra asli kampung Ngalau Baribuik. Dalam ketidak berdayaannya, Syafrizal yang akrab dipanggil syaf ini bersama istrinya Rusmaniati tampak berjuang menerjang badai kehidupan, demi sebuah cita- cita dan masa depan anaknya.

Disampaikan Jamasri, Lahan pertanian yang jadi harapan untuk keluarganya, semakin hari semakin tidak mampu memberikan harapan baru. Debu sisa blasting (pengeboman) batu kapur bukit karang putih kerap menutupi dedaunan palawija serta padi di daerah ini, belum lagi getaran blasting yang terus mengugurkan bunga dan putik setiap tanaman. “Benar- benar tidak bisa lagi menjadi sebuah harapan ditengah impian besar” terangnya merana.

Mau tidak mau, Syafrizal, Rusmaniati dan warga lainnya di daerah ini terpaksa menerima kenyataan pahit tersebut. Meskipun demikian, mulut mereka masih selalu mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sejak zaman nabi Adam, negeri dengan cerita dongeng sipetapa Baribuik ini, merupakan negeri yang gelap gulita, namun pada tahun 2012 pemerintah Kota Padang telah memberikan perhatian khusus dengan mendirikan pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) sebagai sumber penerangan di daerah ini, jelas Rudi menambahkan.

Tidak hanya itu. Melalui dinas Dispernakbunhut, negeri tertinggal inipun dibantu puluhan ekor sapi. Disamping sebagai penghasilan tambahan, kotoran sapi tersebut juga sangat diharapkan sebagai pupuk tambahan areal pertanian masyarakat Ngalau Baribuik ini yang telah lama dirusak akibat proses penambangan PT semen Padang. Jelas Rudi lagi.

Ditempat terpisah, “Saya dan masyarakat disini cuma orang kecil. Meski alam dan lahan pertanian kami sudah dirusak, namun Kami tidak bisa berbuat apa- apa. Sebenarnya masyarakat sudah gerah, namun  PT Semen Padang adalah perusahaan besar yang tidak bisa kami tentang dengan kemampuan kami yang hanya masyarakat kecil ini. Kami mendengar, PTSP memberikan bantuan dan Perhatian yang cukup terhadap daerah yang sudah maju, namun untuk daerah kami yang merupakan daerah lingkungan tambangnya PT.SP, nilai bantuannya hampir tidak berarti untuk meningkatkan kesejahteraan, ekonomi maupun pendidikan anak- anak nagari ini ” ucap Syafril warga lainnya.

Teriakan masyarakat pribumi sekitar tambang batu kapur bukit karang putih PT Semen Padang ini, merupakan bukti nyata dari tindakan kesewenang-wenangan pihak PTSP terhadap masyarakat maupun lingkungan sekitar pertambangan, timpa Syafril.

Dikatakan, sejak tambang batu kapur PT.SP ini dibuka pada tahun 1910 oleh kolonial belanda dan setelah itu dilanjutkan oleh Indonesia, daerah dan masyarakat Ngalau Baribuik semakin di isolasikan. Fasilitas jalan keluar masuk melalui areal tambang,  sampai sekarang masih berlapiskan tanah, licin dan beresiko. Tidak ada efek psitif serta manfaat atas keberadaan tambang PT.SP terhadap  daerah dan masyarakat Ngalau Baribuik ini. Tutupnya.

Anggaran milyaran rupiah yang harus diperuntukan untuk kesejahteraan daerah serta masyarakat Ngalau Baribuik ini raib entah kemana, sindir Rudi.

Diketahui bersama, bahwa UU dan peraturan CSR serta pertambangan, diwajibkan untuk memberikan perhatian serta tanggung jawab khusus terhadap lingkungan maupun kesejahteraan masyarakat sekitar pertambangan.

Meski wujud perhatian dan tanggung jawab tersebut dituangkan dalam bentuk program Corporate Sosial Respinsibility (CSR), dimana anggarannya diambilkan dari laba Perusahaan. Bersambung  (Akmal/TIM).