Home BERITA TERBARU (Eds 01) Sepatu Butut Ditengah Perjanjian Yang Tak Kunjung Terealisasi.

(Eds 01) Sepatu Butut Ditengah Perjanjian Yang Tak Kunjung Terealisasi.

261
0
SHARE

Padang, targetsumbar.net – Meski sebenarnya rapuh, namun langkah kecil itu terus diayunkan, menyisiri lereng Bukit Timbulun, Batu Gadang, dengan sisi-sisi dikelilingi semak belukar, jalanan tanah serta bebatuan. Sepatu butut pembelian orang tuanya yang keseharian hidup dari hasil berkebun, menjadi teman sekaligus pelindung kakinya yang masih suci, menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 3 Km setiap harinya.

Tas yang sempat menjadi kebanggaannyapun telah kelihatan menyerah, sudut- sudut buku yang dibawanya guna menuntut ilmu kelihatan bermunculan. Sebotol air minum dengan sesekali uang jajan seadanya, menjadi bekal keseharian guna menuntut ilmu disalah satu Sekolah Dasar yang berada dinegeri kaya batu kapur kota Bengkoang ini.

Seribu impian dengan berjuta rasa sepi, hadir bagaikan seorang teman sejati, hanya gelak dan tawa sang adik serta candaan kedua orang tuanya, menjadi hiasan dalam ketidak pastian kehidupan masa depan sang bocah kecil yang akrab dipanggil Rafel ini.

Ditengah lelahnya jiwa kedua orang tuanya, tangan mungil bocah manis inipun turut mengambil tanggung jawab dalam menantang kehidupan yang penuh dengan ketidak pastian.

Setiap hari, Rafel menyisiri perkebunan coklat milik orang tuanya. Memanjat serta memetik buah yang sudah matang, membelah dan menjemurnya diterik mentari. Disaat sepinya buah coklat, terkadang bocah inipun berkeliling kebun, mengumpulkan buah pinang maupun kemiri yang gugur guna menambah penghasilan, setidaknya bisa sebagai pembeli secanting dua canting beras sebagai penyambung hidup. Pisang serta ubi, bukan lagi hal yang aneh sebagai  pengganti nasi disaat hasil kebun tak lagi bisa diharapkan. Hanya sedikit waktu bermain yang dimilikinya, semuanya dihabiskan untuk membantu pekerjaan orang tuanya serta belajar dengan buku panduan seadanya.

Kegamangan dalam meniti kehidupan yang keras tampak tertoreh diwajahnya yang lugu, seakan hatinya berkata, “alam yang indah ini adalah sahabat manusia, tempat manusia bernaung, hidup serta memberi kehidupan, namun kenapa…. kenapa alam ditempat tinggalku tidak bersahabat dengan kehidupanku.? Hasil kebunku, buahnya hanya hitungan jari disetiap batangnya sementara bunganya begitu lebat,” ucap sepi bibir mungil tak berdosa ini seraya mengelus pohon seakan berkata, “engkau serta pohon- pohon yang ada dikebunku selama ini telah banyak membantu kehidupan kedua orang tua, adik serta diriku.

Pohon yang kuat, bersih serta dengan bunga- bunga yang cantik, namun kenapa buah mu hanya sedikit..? apakah engkau sakit wahai pohon penopang kehidupannku..? orang tuaku tidak lupa memberimu pupuk agar pohonmu kuat serta bungamu lebat, terkadang orang tuaku menyemprotkan obat- obatan agar daun dan buahmu tidak dihinggapi serangga, namun kenapa buahmu selalu banyak yang berguguran..? bersambung (Red)