Home BERITA TERBARU Kupon Sakti Sang Supir (Eds 05) “Empat Warna Kupon”

Kupon Sakti Sang Supir (Eds 05) “Empat Warna Kupon”

229
0
SHARE

By: Yohandri Akmal

Motor yang ku kendarai, kulaju dengan santai. Jalan licin membuatku lebih hati-hati. Tidak seperti kemaren, kali ini hujan turun tak begitu lebat. Sepanjang jalan dibasahi air hujan. Lima menit aku berkendara, mataku melihat jalan rel kereta api, membentangi jalan raya didepan itu. Pelan dan hati-hati ku lintasi rel kereta itu. Belum sempat ku lewati, tiba-tiba sepeda motor Yamaha Mio Metic memotongku,

Kendaraan ini terlihat sedikit kencang, sekira 40 Km/jam. Begitu rel dilintasi, mendadak motor itu terjungkang. Pengendara berjaket biru, ikut terguling seiring dengan sepeda motornya.

Warga di Tempat Kejadian Perkara (TKP) seketika menolong pengendara itu. Tiga orang memapahnya, aku menepikan motor mio meticnya itu. Selesai kutepikan, pengendaranya kuhampiri. Begitu kulihat, ternyata seorang wanita cantik, masih muda. Tangan dan kakinya berdarah tergores aspal. Raut mukanya terlihat pucat, kulihat seorang warga menasehati wanita cantik itu.

“Dek, kalau mengendarai motor pada waktu hujan atau gerimis, jangan terlalu kencang yach. Rel kereta api sangat licin jika diguyur hujan. Bawa nya harus pelan dan hati-hati” nasehat warga pada wanita itu.

“Iya bang.., trima kasih” sahutnya terbata-bata dengan raut wajah terlihat shock.

Aku sangat kasihan kepadanya. Menurutku, mungkin dia belum berpengalaman mengendarai sepeda motor. Sehingga belum memahami kondisi jalan disaat hujan. Peristiwa motor terjungkang saat melintasi rel kereta api memang sering terjadi, apalagi ketika hujan datang. Menurutku, pelan dan hati-hati mesti di utamakan.

Begitu keadaan sudah mulai kondusif, aku kembali melanjutkan perjalanan menuju pulang. Lima belas menit setelahnya, pagar berwarna hitam diselingi warna kuning ke emas-emasan terlihat dari jarak dua belas meter. Sesampai dedepan pagar, gadis kecil berambut panjang seketika keluar dari dalam rumah. Membukakan pagar pertanda mempersilahkan aku masuk. Begitulah kebiasaannya, jika mendengar suara motor setiap aku pulang. Dialah anak bungsuku. Chelsi, itulah panggilan sehari-hari nya. Sedikit manja, masih duduk di kelas dua SD.

Di garasi kanan rumah, motor ku parkir paling sudut. Langkah kaki berlanjut memasuki rumah sederhana ku.

“Assalammuallaikum..w..w..” sahut ku, ketika berada didepan pintu.

“Alaikumsallam.. w…w..” balas istriku dari dalam.

Selang berapa lama. Mandi, sholat dan makan, selesai sudah ku lakukan. Leptop yang kutaroh didalam tas, mulai aku keluarkan. Perangkat segi empat ini, satu-satunya penunjang kerja ku. Seperti biasa, ku hidupkan untuk memulai mengetik sebagai kuli bahasa .

“Minta duit pa..,” rayu Chelsi saat aku mulai mengetik.

“Tadi Ceci sudah ngaji dan belajar, lebihin duitnya yaa pa” rayu nya lagi seakan perjuangan dia tadi itu, dibayar lebih.

Bagiku, tidaklah jadi soal. Yang penting anak bungsu ku itu mau belajar dan mengaji. Uang yang aku kasih, sebagian ditabungkannya, dilakukan dengan rutin setelah uang diterima tangan mungilnya. Kebiasaan itu membuat aku merasa bangga. Chelsi merupakan buah hatiku. Begitulah ia kutempatkan dalam hidupku.

“Nih cayang duitnya..” ucapku membalas rayuan anak ku itu.

“Makasih Paa..” sahut anak ku gembira.  “Yaach cayang” ucapku sembari mencium pipinya.

Menulis berita mulai kulakukan. Jari jemariku menari tanpa henti. Inspirasiku silih berganti, mencurahkan bahasa perbahasa. Pengupasan kasus investigasi yang telah lama ku publish, kembali ku lanjutkan. Tiada lain, penyampaian aspirasi masyarakat tertindas, disekitaran bukit karang itu. Yang kutahu hak mereka dirampas, tanpa bisa di ambil kembali. Perlahan mereka seperti dikebiri, seperti tak ada lagi tempat mereka mengadu. Ujung jariku terus mengetik, serasa terkoneksi dengan sendirinya.

Sebenarnya, aku kewalahan meng ekspos perusahaan besar itu. Segudang persoalan melangit, digumulinya. Dipaparan tanah minang ini, banyak yang menyusu kepada nya. Meskipun aku sadar, perusahaan itu mampu berbuat apa saja. Namun, tidaklah membuat aku patah semangat. Sebagai wartawan, penyampaian aspirasi masyarakat jelata tertindas, melalui jurnal rakyat adalah misi utama ku. Meskipun kadang tertekan, aku selalu berusaha untuk tidak patah arang. Walau pun terkadang dihantui rasa takut, namun itu sudah pilihan.

Tak lapuk oleh hujan tak lekang oleh panas, itulah hasratku, itulah pengharapan dan hikayat hatiku. Meskipun perusahaan besar itu menganggapku kecil, memandangku sebelah mata, tidaklah jadi persoalan bagi ku. Masyarakat jelata harus dapatkan keadilan, jangan lagi ada yang tertindas, jangan lagi ada yang ditikam, jangan lagi ada yang dikambing hitamkan.

Setiap perjuangan mengandung resiko. Bagiku, takdir manusia TUHAN penentunya. Jari jemariku terus menari di keyboard leptopku. Tak terasa, edisi berikutnya selesai ku ketik, untuk aku publish esok harinya.

Jarum jam menunjukan tepat diangka 12.00, menandakan sudah larut malam. Laptop ku matikan, aku pun beranjak kekamar. Badan ku rebahkan disamping istriku yang tengah tidur lelap. Begitu dalam, wajah polos ini kupandangi. Hati ku pun berkata, kaulah bidadari ku, kau adalah penyemangat hidupku dan kau sangat berarti bagiku. Dalam hati, aku berdoa, mudah-mudahan TUHAN menuntun rumahtangga ku, menjadikannya bahagian dari hidupku, dalam suka dan duka hingga akhir hayat ku. Tanpa aku sadari, mata ini membawa ku tertidur.

Esok harinya, aku beraktifitas seperti biasa. Profesiku sebagai wartawan, kembali ku geluti dengan senang hati. Saking sibuknya, tak terasa terik matahari telah berada diatas kepalaku. Aku memutuskan menuju kedai soto tempat aku janjian dengan Indra Leo. Letaknya tidak jauh dari jembatan timbangan itu. Sesampainya di depan kedai soto, terlihat Indra Leo duduk bersandar bercengkrama dengan Budi Gunawan.

Motor ku parkir, aku pun memasuki kedai soto itu. “Tumben.., rupanya wartawan senior dengan junior lagi saling berbagi pengalaman kayaknya nih..?” sapaku mengusik keseriusan mereka.

“Yaa.. iyalah.., jam terbang Da In sebagai wartawan kan lebih oke daripada abang, jadi wajarlah kalau saya ingin tahu banyak tentang pengalaman nya” sanggah Budi berseloroh ke aku.

“Silahkan diteruskan, aku mau sholat dulu” jelasku sembari melangkahkan kaki menuju Musholla yang berada disebelah kedai soto itu.

Selang berapa lama, aku pun kembali bergabung dengan mereka. Pembicaraan mereka terlihat serius, aku menjadi pendengar setia. 10 menit setelahnya, aku pun megalihkan percakapan mereka.

“Da In.., untuk sementara, diskusi ringan dengan Budi ini, gimana kalau dipending dulu. Kita lanjutkan diskusi kemaren yang belum jadi kita bahas”  ucapku memotong percakapan mereka.

“Oke..” Balas Indra Leo tanpa merasa keberatan.

“Begini Mal.. Permainan kertas kupon yang dilakoni oleh oknum polisi itu, diberikan kepada setiap supir yang nantinya diserahkan supir kepada petugas saat memasuki jembatan timbangan. Permainan ini sudah berlangsung cukup lama. Diperkirakan 4 orang oknum polisi mengatur kupon sakti itu. Masing-masing oknum mencetak kupon dengan warna yang tidak sama. Terdapat empat warna. Perbedaan warna, sengaja dikondisikan agar pimpinan jembatan timbangan. Dapat dengan mudah mengetahui siapa pengelolanya. Kupon diterima supir di jalan By Pass Kota Padang setelah menyerahkan uang. Satu orang oknum aparat mengatur puluhan kendaraan.” papar Indra Leo meng awali penjelasannya.

“Permainan cantik dan tersistem ini, dilakukan bukan dengan kertas kupon saja. Trik lainnya adalah, sebagian kendaraan truk yang memasuki jembatan timbangan, dalam tanda petik melebihi tonase. Petugas timbangan diperintahkan untuk mencatat No Polisi nya melalui buku terpisah. Trik berbeda ini, juga dimainkan oleh oknum polisi. Puluhan truk dicatat petugas timbangan setiap harinya, tapi kertas kupon lebih unggul. Artinya, jumlah kendaraan truk yang di koordinir oleh oknum polisi dengan menggunakan kertas kupon, lebih banyak dibandingkan dengan oknum polisi yang mengkoordinir dengan cara dicatat petugas timbangan” timpa Indra lagi.

“Kalau begitu, petugas untuk di jembatan timbangan ini, setiap harinya bekerja. Hanya tukang kumpulin kertas kupon dan tukang catat No Polisi kendaraan saja…, Trus fungsi dan kewenangannya sebagai petugas lapangan tertindas dong” sanggah Budi menimpali.

“Nah itu dia Bud, tampaknya para petugas jembatan timbangan yang satu ini, sudah dikebiri oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. Artinya sebuah lembaga negara telah….. bersambung…