Home BERITA TERBARU MELAWAN ARUS (edisi-8) “Surat Dari Pusat”

MELAWAN ARUS (edisi-8) “Surat Dari Pusat”

229
0
SHARE

By: targetsumbar.com

“Beginilah nasib wartawan seperti kita bang, sekuat apapun usaha memperjuangkan suara masyarakat tertindas melalui jurnal rakyat, selalu saja tak ditanggapi. Jangankan mereka kita aja kewalahan dibuatnya” keluh Willy dengan senyum dipaksa.

Aku terdiam terpana melihat Willy belepotan penuh lumpur. Baju yang basah kuyub, diwarnai muka terlihat sedikit pucat. Malam yang begitu dingin membuat dia jadi menggigil. Tanpa pikir panjang, kami bertiga mengangkat motor metic yang tercebur disawah itu. Nah.., motor pun terangkat sudah, namun sayang tak bisa dihidupkan lagi. Seluruh body terlihat penuh lumpur, serupa dengan pemiliknya.

“Mendingan motormu ku dorong aja dengan kakiku, kamu harus hati-hati Wil, jangan kecebur lagi” ucap Rudy memberi sinyal setia kawan.

Motor Willy didorong dengan tungkai kakinya Rudy, sejauh satu kilo, tenaga Rudy terlihat mulai kelelahan. Tanpa diminta, Akmal langsung menggantikan peran Rudy memapah motor itu. Meskipun jalan timbulun berlunau, gelap dan menakutkan. Alhamdulillah dimalam yang makin dingin, akhirnya kami bersama sampai juga kejalan besar ber aspal, tepat didepan rumah bundo Sisilia. Malam telah larut, tak satupun bengkel yang buka. Kami memutuskan motor Willy dititip di rumah bundo saja. Tanpa diselimuti rasa ragu, pintu rumah Bundo diketuk sembari memanggilnya, tidak berapa lama Bundo pun keluar dan membukakan pintunya.

“Bundo, ini motor Willy kecebur sawah tepat dijalan tikungan patah tadi itu, sehingga tak bisa dihidupkan lagi. Titip dulu yaa bundo, besok siang di jemput lagi” jelasku menerangkan.

“Yalah ggak apa-apa, taroh saja digarasi samping itu. Kenapa bisa kecebur sawah..?, lain kali hati-hati, sepanjang jalan itu gelap gulita, tak ada lampu jalan” papar bundo menasehati.

“Makasih bundo, kami permisi dulu, sehubungan malam udah larut, kami langsung pulang aja” sahutku lagi.

Kami bersama menuju pulang kerumah masing-masing. Lima belas menit perjalanan, Rudy dan Sinda lebih dulu sampai kerumah sederhananya. Sekarang tinggallah kami bertiga, melanjutkan perjalanan dengan menaiki satu motor saja, yaitu dengan motor Yamaha Vixion nya Akmal. Satu jam berkendara, aku pun tiba diteras rumah berwarna putih, usai setelah Wlly di antarkan kerumahnya terlebih dahulu.

Selesai cuci muka, akupun langsung menuju kamar untuk segera tidur. Badanku yang sudah serasa lelah. Membuat mata menjadi terkantuk berat, seketika badan gemukku langsung tertidur pulas.

Waktu tidurku terasa sekejap saja. Aku pun terjaga saat merasakan anak bungsu ku menggelitiki perut. Mata ku buka, jam di dinding menunjukan tepat di angka delapan pagi. Tanpa kusadari sholat subuh ku terlewati. Belum sempat badan di ajak berdiri, telpon samsung berdering memanggil. Begitu kulihat, nama Willy tampil dilayar hanphond ku.

“Hallo.. ada apa Wil, kok pagi-pagi begini menelpon” ucapku memulai percakapan.

“Begini bang, ada surat dari pusat ditujukan untuk media kita, saya ggak berani buka, gimana kalau ku antarkan saja kerumah mu sekarang bang” sahut Willy menjelaskan.

“Oke,” balasku singkat.

Lima belas menit waktu berlalu, selesai sudah aku mandi. Duduk santai di teras rumah menjadikan badan kembali bugar. Rasa hati menjadi lega, melihat kopi panas telah tersedia dimeja kecil sederhana. Wanginya bau kopi membuat badan serasa makin segar, rokok yang ku hisap terasa tambah nikmat. Duduk santai bersandar, mengajak mata memandang jauh dibukit karang itu. Pikiranku membayangkan peristiwa semalam.

Sebenarnya aku serasa ingin tertawa, namun tak sanggup kulakukan. Rasa kasihan melihat Willy membunuh gejolak gelak itu. Hatiku berkata, perjuangan berat meng ekspos perusahaan besar, memang sangat meletihkan. berliku terkadang membeku, lelah namun terasa bergairah. Aku dan kawan-kawan bertekad tuk tetap memperjuangkan aspirasi masyarakat miskin tertindas.

Dalam hati aku Hanya bisa berharap, semoga TUHAN membukakan hati nurani pejabat perusahaan itu. Sudah semestinya warga dan Negerinya mendapatkan hak pantas, bukan hak ampas. Lingkungan hidup yang bersih dan sehat, sudah seharusnya mereka dapatkan. Pikiranku melayang, larut dalam bayangan ketidak adilan.

Aku bangga dengan kerja keras kawan-kawan, Sebenarnya mereka kewalahan meng ekspos perusahaan besar itu. Segudang persoalan melangit yang digumuli. Dipaparan tanah minang ini, banyak yang menyusu kepada nya. Meskipun aku sadar, perusahaan tersebut mampu berbuat apa saja. Namun, tidaklah menjadikan kawan-kawan patah semangat. Sebagai wartawan, penyampaian aspirasi masyarakat jelata tertindas, melalui jurnal rakyat adalah misi utama mereka. Meskipun kadang tertekan, namun selalu berusaha untuk tidak patah arang. Walau pun terkadang dihantui rasa takut, namun itu sudah pilihan mereka.

Tak lapuk oleh hujan tak lekang oleh panas, itulah hasratnya, itulah pengharapan dan hikayat hati mereka. Meskipun perusahaan besar itu menganggap kawan-kawan segumpalan TIM kecil, dan memandang sebelah mata, tidaklah jadi persoalan bagi mereka. Masyarakat jelata harus dapatkan keadilan, jangan ada yang tertindas, jangan lagi ada yang ter ampas, jangan lagi ada yang dikambing hitamkan

Bersambung ……