Home BERITA TERBARU Iri Hati, Dengki Dan Munafik  Tidak Bisa Wujudkan Persatuan Dan Kesatuan

Iri Hati, Dengki Dan Munafik  Tidak Bisa Wujudkan Persatuan Dan Kesatuan

359
0
SHARE

Oleh: Zainal Abidin.HS

TS – Bisakah tercapai perubahan,..yaitu perubahan bagi bangsa dan Negara di negri ini, untuk menggapai cita- cita menuju masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera,…? Rasanya jauh panggang dari api, kalau para pemimpin dinegeri ini otaknya masih tercemar perasaan iri, dengki dan munafik. Ini yang berbahaya,..karena kalau sifat pemimpin sudah tercemar, maka jangan harap rasa persatuan dan kesatuan bisa tercapai.

Apa yang mereka publikasikan terhadap public,…hanya kebohongan saja, karena tidak seirama dengan hati nurani dan perasaan mereka yang sebenarnya. Masyarakat hanya pelengkap penderita saja, akibat korban kebijakan konyol dari pemimpin- pemimpin yang otaknya sudah tercemar rasa Iri Dengki dan Munafik. Rasa persatuan dan kesatuan memang indah dikulit depannya saja,…tapi isi sebenarnya begitu sangat bobrok

Dari waktu ke waktu, dengan berjalannya usia negara ini, dimana setiap tahunnya terus merayakan kemerdekaan. Apakah kita sudah memperbaiki sikap untuk menghilangkan atau menyingkirkan sifat individualis iri dan dengki yang bersarang didalam hati kita, apakah sifat kerakusan dan keserakahan yang tertanam dalam hati sanubari kita telah dibuang,…   Kalau semua hal itu belum terbuang dan masih melekat kuat dalam diri kita, maka jangan harap rasa persatuan dan kesatuan dapat diwujudkan dalam kehidupan berbangsa.

Sudah saatnya kita betul-betul melakukan revolusi mental secara besar-besaran, negara yang besar tidak akan menjadi besar apabila orang didalamnya masih memiliki sifat iri, dengki serakah serta memiliki mental korupsi. Tangungjawab negara yang besar harus diiringi oleh manusia- manusia berjiwa besar serta memiliki mental rasa kepedulian social yang tinggi. Dari sinilah persatuan dan kesatuan bangsa indonesia dapat tercapai sehingga terwujud rasa persatuan dan kesatuan bangsa yang kokoh dan tidak akan rebah dengan mudahnya.

Demokrasi kita masih kebablasan, kenapa demikian,  karena dalam pesta Demokrasi, yang tak bisa dihilangkan dan sudah menjadi rahasia umum adalah suap menyuap. Jual beli suara, pembohongan public dan yang tak kalah serunya lagi, terjadinya transaksi politik uang dan kapanye hitam yang berhubungan dengan pelaksanaan pemilu legislative dan pemilihan pemimpin, sedangkan masyarakat diminta untuk jangan sampai golput.

Kalau memilih, maka pilihlah pemimpin yang kita fahami sesuai dengan hati nurani masing- masing. Jangan sampai terpengaruh kampanye hitam yang menyesatkan dan membuat kita menjadi bingung.

Persoalan lainnya, kita medengar adanya calon-calon pemimpin wajah baru, sementara masyarakat belum kenal siapa mereka, lalu masih ada wakil- wakil rakyat yang menyandang rapor merah, kerjanya hanya main bonceng saja yang ikut ikutan mau jadi pemimpin. Parahnya lagi ada caleg yang tersandung dugaan perbuatan korupsi sementara proses hukumnya kelam kelabu akibat disembunyikan, Ya ampun, memang hukum jaman modern sekarang makin membingungkan. ***