Home BERITA TERBARU Merantau Cina

Merantau Cina

344
0
SHARE

By: Yohandri Akmal

Target Sumbar – Dibalik kaca kulihat beraneka keindahan dan kesembrautan. Dari kampung ke kampung hingga bermacam kota tersuguhkan berbeda ragamnya. Mulai dari jembatan terpanjang hingga bukit tertinggi kulewati bersama bis ini. Perjalanan ini semestinya ternikmati olehku, hanya saja tidak sedemikian.

Alasannya sederhana, yakni pikiranku sedang kalut. Bagaimana tidak, pulang ke kampung hanya untuk balas dendam. Semua yang ada di Jakarta telah kujual, kutinggalkan demi perasaan sakit yang tak terbendung menghantui pikiranku.

Sebelumnya, aku pedagang kelontong di Jakarta. Meski kiosku sederhana, namun bisa membuatku berkecukupan di rantau orang. Penghasilan rata-rata tiga puluh juta perbulan, mampu membawa diriku dalam enaknya hidup jauh dari kampung. Tapi semua kenikmatan itu terbantahkan oleh rasa sakit yang tak pernah hilang.

Sepuluh tahun silam, aku sengaja membuang diri dari daerah asalku, tanah Minang Sumatera Barat, tepatnya di Kota Padang. Terbuangnya aku lantaran disesakan oleh luka bathin yang kudera. Cintaku rarak berkeping digusau penghianatan tersakit bagiku. Istri yang kuanggap baik ternyata tidak lebih murah dari seorang pelacur. Dia kudapati tengah bercinta mesra dengan seorang juragan tanah yang kaya dan mentereng. Alhasil, akupun tercampakan oleh keluarga baru yang telah kubina. Hanya karena uang yang tiada pernah bisa kulimpahi, tentunya takkan mudah bagiku.

Waktu itu, aku hanyalah seorang tukang ojek dan buruh serabutan bertubuh gemuk berkulit hitam. Ditambah dengan pergi pagi pulang malam. Hanya sedikit waktu yang kusisakan untuk istri meskipun belum memiliki anak. Pada saat itu usiaku tiga puluhan dan pernikahan baru berjalan satu tahun.

Karena hanya mampu mencukupi dan tidak bisa berikan yang lebih, wajar saja perselingkuhan itu terjadi. Namun yang paling menyakitkan itu adalah perselingkuhan istriku berlangsung sejak sebelum kami menikah. Bodohnya aku tidak tahu sama sekali. Aku hanya terbuai dengan tawaran menikahi seorang wanita cantik dan lupa untuk mengoreksi asal usulnya. Bodohnya lelaki kan seperti itu.

Jadi, peristiwa menggemparkan itupun terjadi. Aku melihat langsung dari mata kepala ini pertenggeran sepasang manusia diatas kasur yang masih kucicil. Waktu itu, tak biasanya aku pulang disiang hari. Perut ini sangatlah lapar namun uang disaku habis buat nambal ban motor. Pulang ke rumah merupakan alternatif yang terlintas di kepalaku, dan itu kulakukan.

Karena jalan berlumpur, aku sengaja memarkirkan motor di dekat warung tetanggaku. Kemudian berjalan kaki menuju rumah. Supaya rumah tidak kotor akibat bercak lumpur oleh kakiku, maka akupun masuk lewat pintu belakang. Hal ini kulakukan, supaya istri tak mencerotet bila lantai kukotori. Pintu yang dikunci menggunakan karet ban dalam sangat mudah dibuka. Suasananya begitu hening, dugaan saat itu istriku sedang tidur nyanyak, pastinya suami yang baik takkan mau mengganggu.

Dengan santai aku melangkah ke kamar, tiba-tiba kiamatnya dunia menimpaku. Luna istriku sedang bergumul bersama pria paruh baya yang tak kukenal.

“Kapuyuuk!! Ngapain kalian ini?” hardikku.

Sontak mereka kaget, terparanjat berhamburan meloncat dari tempat tidur. Emosiku tidak terkontrol, pria itu kutarik keluar hendak ingin menghajarnya. Malang nasib memang milikku, tiba-tiba benturan keras menyondak kepala bagian belakang ini. Pandangan jadi gelap, aku pingsan.

Setelah sadar, mata ini serasa berat kubuka.  Sepuluh menit lamanya aku berusaha untuk bangun dan berlari menuju kamar. Saat itu, kutemukan Luna sibuk mengumpulkan pakaianku dan memasukanya ke dalam sebuah tas besar yang sering kupakai untuk membawa peralatan tukang. Sedihnya lagi, dia membungkusi pakaian itu tanpa setetespun air mata yang mengucur di pipinya.

“Kenapa adek begitu tega melakukan hal itu?” tanyaku dengan nada lesuh bercucuran air mata.

“Tidakkah kau pikirkan betapa besarnya dosamu?” kembali ucapanku.

Dia masih saja diam dan serius mengepakki pakaianku. Aku ingin marah besar dan mengamuk padanya, tapi mentalkupun lantah karena saking mencintai dia. Aku berharap sekali dia meminta maaf ketika itu, nyatanya tiada sedikitpun harapan itu terjadi. Beberapa saat, diapun selesai dengan kepakkan membungkus pakaian ku itu.

“Badu, aku ingin kita cerai. Sekarang kau pergi jauh-jauh dari hidupku, dan tinggalkan rumahku dari sekarang!”, sentak Luna dengan sinisnya.

Aku merasakan ada hal lain didiri Luna. Biasanya dia tidak pernah memanggil aku dengan menyebut namaku. Aku merasakan kebingungan saat itu. Parahnya lagi, aku malah merasa bersalah dengan kesalahan yang telah dibuatnya. Rasanya aku menyesal dan tidak ingin memergoki mereka, kalau tahu jika begini jadinya.

“Mengapa harus bercerai? Kita bisa bicarakan semua ini dengan baik-baik dek”, bujukku.

Itulah aku dengan dua sisi menakjubkan yang kumiliki. Pertama, aku bisa bersikap sabar demi penzaliman terhadapku. Kedua, kebodohanku yang tidak dimiliki oleh orang lain.

“Pokoknya kau harus pergi dari rumahku ini!”, teriaknya membuatku terhempas.

“Baiklah, abang  akan pergi asalkan adek ceritakan dengan jujur siapa dia dan mengapa semua ini dilakukan. Selanjutnya, aku akan pergi meninggalkanmu dengan ihklas”, jawabku sebagai pilihan terakhir.

Aku terus memaksa Luna untuk menceritakan tentang semua ini dengan jujur tanpa ada yang disembunyikan. Akupun berjanji untuk menuruti kemauannya setelah ini. Usai kudesaki terus, akhirnya Luna menceritakan kesemuanya dengan kesepakatan yang telah kita buat. Poin cerita, aku menjatuhkan talak padanya dalam kesepakatan itu.

“Nama bapak itu Barum. Dia adalah orang yang menyelamatkan tanah ibuku. Dia Datuk juragan, penghulu dan mafia tanah terbesar di daerah kami. Mulai dari aparat desa hingga pemda tunduk padanya, karena tanpa Barum, segala persoalan yang berkaitan dengan tanah tidak akan pernah terselesaikan di daerahnya”, tutur Luna.

Selanjutnya, Luna menjelaskan bahwa Barum juga telah berselingkuh dengannya sejak sebelum kami menikah. Tragisnya, dia menceritakan itu tanpa ada secercah ekpresi bersalah sedikitpun. Aku seperti bukan suaminya kala itu. Aku tak tahan mendengarnya.

“Cukup Luna! Hentikan ceritamu itu, aku tak kuat lagi mendengarnya. Mulai hari ini kujatuhkan talak tiga untukmu. Maafkan atas kesalahanku jika ada selama ini dan relakan yang sudah termakan”, ulasku mengakhirinya.

Tas hitam berkabut berisi pakaian itu kuambil lalu kubawa pergi. Sebelum melangkah keluar, aku sempatkan diri mencium kening Luna. Langkah ini pergi tanpa kerelaan sedikitpun namun harus dilakukan. Setahun lamanya aku menjalani hidup dengan kebodohan yang dilangkahi oleh istri sendiri. Hanya gara-gara uang dan kekuasaan membuat rumah tanggaku hancur berantakan. Mujur saja kami belum dianugrahi anak. Ketika itu aku sadar mengapa Tuhan tidak pernah percaya memberikanku anak bersama Luna. Karena kami ditakdirkan berakhir perpisahan.

Jujur, aku masih sangat cinta dengannya, namun tidak bisa berkuasa terhadapnya. Selama ini, aku menafkahi dirinya dengan kurang dan terlalu tunduk akan kecantikannya. Pantas saja selama ini, meskipun suaminya tukang ojek namun bedak mahal mampu ia beli. Segitulah batas kepintaranku dalam menalar sesuatu. Tetapi, semua sudah hancur dan terlambat. Pilihan terbaik, aku harus pergi dari hidupnya.

Langkah gontai, pulang ke rumah ibuku di Padang. Aku yakin hal ini akan membuat keluargaku bertambah panik. Pasalnya, bertambah lagi beban ibu yaitu diriku ini. Aku dibesarkan oleh keluarga serba kekurangan, ibuku janda miskin kematian suami dan aku bekerja sebagai kuli pasir hingga tubuh ini hitam keling sewaktu bujang.

“Kenapa matamu bengkak uda? Kau menangis?”, tanya Lia adik perempuanku.

Lia adalah satu-satunya adikku. Kami dua bersaudara dan miskin sedari kecil. Kami berdua hanya menempuh pendidikan hingga jenjang sekolah menengah pertama.

“Ga apa-apa dik.  Uda tidur dirumah sementara waktu ini ya”, jawabku.

“Kamu bertengkar dengan Uni Luna ya da?”, desak Lia.

“Udahlah, jangan banyak tanya. Uda capek banget mau tidur dulu”, sahutku sembari melangkah ke dipan kayu yang terletak di belakang rumah tempatku tidur dulunya.

Kuakui, rumah kayu kami hanya satu petak dengan dua ruangan. Satu ruang untuk istirahat ibu yang sedang sakit, satunya lagi tempat Lia tidur, memasak, menggosok serta melakukan hal lainnya. Esoknya, kemalangan baru masih menubiku lagi. Lia adikku rupanya…… Bersambung…

Cerita ini dikemas berdasarkan kisah nyata yang disusun Penulis.