Home BERITA TERBARU Krisis Moral Nan Terabaikan

Krisis Moral Nan Terabaikan

265
0
SHARE

By: Taf Chaniago

Akhlak manusia merupakan keadaan jiwa yang terlihat pada suatu perbuatan. Dalam jiwa tersebut melekat sifat-sifat yang menggambarkan karakter seseorang. Kestabilan mental ataupun karakter yang dimiliki tercermin dari akhlak manusia itu sendiri. Pembentukan akhlak sebenarnya tidaklah sulit, dapat dilakukan melalui pendidikan, pembinaan dan sebagainya.

Sederhananya, bila akhlak itu tidak dapat menerima setiap perubahan dan merubah paradigma ke hal positif, maka sia-sialah fungsi nasihat, pendidikan, dan pembinaan tersebut. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa akhlak merupakan hasil usaha dari setiap didikan dan pembinaan. Peran orang tua terhadap pembentukan potensi rohaniah yang terdapat dalam diri sang anak, sangatlah besar.

Bangsa Indonesia sekarang ini tidak hanya mengalami krisis ekonomi dan krisis hukum. Saat ini yang paling riskan adalah “krisis moral” dikalangan para remaja (generasi bangsa). Sedihnya, persoalan ini serasa seperti terabaikan.

Perkembangan moral remaja dari tahun ketahun terus mengalami degradasi atau penurunan dalam segala aspek kehidupan, mulai dari tutur kata, cara berpakaian, sikap dan lain-lain. Faktor yang mempengaruhi moral remaja, salah satunya adalah arus globalisasi dengan segala tawaran yang menggiurkan. Kurangnya kesadaran dari penikmat globalisasi menyebabkan kemunduran moral pada remaja makin tak terbendung.

Untuk menciptakan generasi yang beradab dan ber-akhak, diperlukan moral dan gaya hidup yang baik. Moral dan gaya hidup tercermin pada perbuatan dan tingkah laku diri, khususnya para remaja sebagai generasi penerus bangsa.

Indonesia selama ini di-anggap sebagai bangsa yang sopan, santun dan ramah di mata negara luar. Sayangnya, belakangan ini terus mengalami penurunan yang cukup memprihatinkan.

Menjamurnya perilaku merusak diberbagai pelosok negeri ini, terlihat makin menghawatirkan. Moral generasi bangsa yang sebelumnya menjunjung tinggi nilai-nilai norma dengan adat ketimurannya, seakan sekarang hanya sekedar tinggal cerita.

Kemerosotan moral yang menghinggapi remaja saat ini, seakan-akan di-anggap sebuah kegagalan lembaga pendidikan yang tak mampu membentuk karakter yang beradab. Anehnya, terkadang justru mereka menjadi sasaran empuk dituduh gagal dalam membentuk moral generasi bangsa.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan tidak akan terlepas dari berbagai tuduhan dan tudingan, apalagi jika terjadi penyimpangan moral terhadap generasi bangsa (pelajar). Pendapat semacam ini, tentu tidaklah adil. Sebab untuk menciptakan akhlak generasi yang baik merupakan tanggungjawab kita semua.

Peran guru di dunia pendidikan, tidaklah serta merta dapat memberi jaminan untuk mampu membentuk karakter generasi menjadi baik. Karenanya, selain orangtua, sejatinya semua pihak apalagi yang miliki pengaruh mesti berperan.

Artinya, peran seputar penanaman dan pembentukan moral pada diri remaja terdapat pada banyak elemen. Kalau dikaji secara detail, penyebab kemerosotan moral pada diri anak bukan hanya karena adanya penurunan akhlak atau kurangnya pemahaman terhadap nilai agama. Kebanyakan, penyebabnya adalah minimnya perhatian orang tua pada sang anak. Lucunya akibat ekonomi, kesibukan dan sebagainya menjadi alasan bagi banyak orangtua.

Penyebab lain yang lebih besar peranannya terhadap kemerosotan moral remaja adalah perkembangan zaman atau pengaruh kemajuan teknologi informasi yang terus masuk ke Indonesia. Disamping adanya dampak positif yang didapati, namun begitu banyak dampak negatif yang terbawa dan melekat merasuki diri mereka, akibat minimnya control orangtua.

Selain itu, rasa ketidakadilan dikalangan remaja, menyebabkan mereka juga kerap melakukan hal negatif untuk mendapatkan sebuah perhatian. Jadi bisa dikatakan bahwa bangsa Indonesia saat ini tidak hanya menderita krisis ekonomi, tetapi juga mengalami krisis moral.

Untuk itu, moral para generasi sekarang sangatlah perlu untuk dibenahi dan sudah saatnya menjadi perhatian serius. Utamanya, permasalahan ini musti menjadi PR penting bagi pemerintah dan kita semua sebagai orang yang cinta tanah air. Sekali lagi!! Penulis berharap, saatnya untuk bersama membuka mata membangun mengembalikan moral masyarakat Indonesia yang sebelumnya merupakan negara yang beritika dan beradab.