Home BERITA TERBARU Sejarah Target Sumbar. “Ditekan Zaman”. (eds.I)

Sejarah Target Sumbar. “Ditekan Zaman”. (eds.I)

365
0
SHARE

Oleh: Yohandri Akmal

TS – Tahun 2012 silam. Era sudah mulai terpeleset, perkembangan media cetak terasa sungkan untuk eksis. Sebab, kontaminasi teknologi seakan menjalar hingga keseluruh penjuru nusantara khususnya daerah Sumatera Barat. Salut memang, mengapa tidak? Bahkan, daerah pedesaan sekalipun dulunya diramalkan tidak akan tersentuh internet, terpatahkan sudah. Petani sudah mengecap Smartphone, hingga metode pertanian juga mereka pelajari lewat internet.

Maka dari itu, sebagai pemilik Tabloid Seputar Sumbar, aku merasa jengah. Harga iklan Koran sudah beriringan dengan media online, sementara biaya operasionalnya berbeda jauh. Perbandingan yang sangat ironis, 1 x terbit media cetak sama dengan 1000 kali terbit media online.

Sekian banyak pengusaha media cetak yang kutanyai, mereka berpendapat hampir sama. Tapi raut wajahnya menggambarkan “kelelahan”. Sebagian, masih sanggup bertahan hingga sekarang. Mungkin bukan tipeku yang sanggup mengobservasi waktu terlalu lama. Kuputuskan untuk mengikuti irama kemajuan dunia saat itu, berkeinginan membuat media online (Portal Berita) juga.

Salah satu alasan kuatku, karena memiliki seorang saudara yang berkompeten dibidang IT enginering (programer) lebih tepatnya professional  Ilmu komputer, Budi namanya.

Kongkritnya, aku dan Budi mendiskusikan persoalan manajemen teknologi website portal berita bersama. Tak lama berlangsung, kesepakatanpun tercapai. Maka berdirilah www.seputarsumbar.com.

Satu tahun lamanya menggeluti media online, ternyata cukup melelahkan. Karena, saat itu tahun 2013 kerjasama publikasi yang dibangun dengan beberapa instansi pemerintah maupun swasta tidaklah mudah. Sebab, mencapai titik kepercayaan mereka itu sulit. Akhirnya, Seputar Sumbar online terseok-seok.

Menyerah Bukanlah Budaya Kita

Nasib ya nasib, aku bersama rekan-rekan seakan tak punya nyawa media lagi. Dari sudut ke sudut menjalani pekerjaan sebagai wartawan terasa makin melelahkan. Apalagi jika memperjuangkan masalah yang dihadapi masyarakat tertindas.

Kasus dugaan pengrusakan kapal para penggali pasir, yang pertama kali diperjuangkan media onlineku. Alhasil, tetap berakhir nihil. Kala itu, portal beritaku masih dianggap belum kuat untuk menyampaikan aspirasi. Kitapun sama-sama lelah.

Lelah bukan berarti menyerah. Aku masih bertahan, karena pertambahan waktu membuat kami praktisi media online diuntungkan. Kerjasama dengan pemerintah satu persatu ditanggapi. Pemasukan iklan mulai terasa, meskipun sangat sedikit.

Akhir tahun 2013. Seputar Sumbar pecah kongsi. Aku merasa di negeri ini budaya pecah kongsi merupakan hal tidak tabur lagi. Mengapa tidak, di daerahku termasuk penghasil orang-orang cerdas terbanyak, kononnya. Para murid berani keluar dan membuka media baru, sedangkan para guru menatapi bias semu yang ada.

Bukan rugi materi yang terupat, melainkan terbuangnya waktu yang menyedak. Masih tak mau menyerah, itulah sisa-sisa timku. Awal tahun 2014, lahirlah media online kami yang baru www.minangnews.co.id.

Melawan Arus

Headline menantang telah dimulai. Sedikitpun tak kusangka akan mengekspos masalah yang berkaitan dengan sebuah perusahaan BUMN terbesar di Sumatera Barat, PT. Semen Padang (PTSP). Bermula tentang salah seorang warga sekitar Bukit Kapur, Indarung yang menuntut haknya kepada PTSP.

Tiga bulan berjalan, energi kami banyak terforsir mengolah sumber narasi masalah antara PTSP dengan warga sekitar. Konsentrasi menelusuri persoalan rakyat kecil itu tak pernah pecah sedikitpun. Pelbagai manuver investigasi infromasi dilakukan. Disaat getar-getir mengekspos masalah ini, www.minangnews.co.id tanpa argumentasi yang jelas minta untuk ditutup oleh pemilik perusahaannya. Sontak, kamipun kaget.

Aneh rasanya, ketika tengah semangat menggarap sebuah persoalan besar, lalu tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba diminta berhenti tanpa kumengerti. Kuakui, badan hukum media online kami kelola itu dimiliki orang lain, dan kamipun tak bisa membantahnya. Karena secara hukum, kami kalah.

Tak mau menghela nafas terlalu panjang, kami membentuk media online baru dengan badan hukum milik sendiri yaitu www.targetsumbar.com. Dengan komitmen membangun perjuangan tanpa menyerah. Bahkan beranak lagi, lahirlah www.targetindo.com.

Nah, dengan duo media ini kami serasa mendapatkan kekuatan baru, kasus-kasus baru tergarap penuh. Meskipun, sebagian ditanggapi penegak hukum dan selebihnya masih diawang-awang, atau terputus pengupasan. Palang kepalang, sendatpun ketemu jua, kami……(bersambung).