Home BERITA TERBARU Teluk Bayur, Pelabuhan Nan Berusia 127 Tahun di Padang

Teluk Bayur, Pelabuhan Nan Berusia 127 Tahun di Padang

226
0
SHARE

Jakarta – Teluk Bayur, sebuah pelabuhan yang terletak di Padang, Sumatera Barat (Sumbar). Pelabuhan ini sudah dibangun sejak masa kolonial Belanda pada 1888 atau 127 tahun yang lalu.

Targetsumbar.com, pada akhir pekan ini, Sabtu (13/04) berkesempatan mengunjungi pelabuhan seluas 534 hektar ini.

Lokasinya memang tidak terlalu jauh dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Bila menggunakan kendaraan pribadi, maka dibutuhkan waktu sekitar 50 menit melalui jalur bypass.

Perjalanan ke pelabuhan cukup lancar karena tidak banyak bertemu dengan titik kemacetan. Kondisi jalan juga cukup bagus, dan hanya sedikit terlihat ada kerusakan. Apalagi tahun lalu dilakukan pelebaran jalan oleh pemerintah setempat.

Masuk ke dalam pelabuhan, terlihat tatanan ruang yang tampak rapi dan bersih. Beberapa kendaraan seperti truk hingga sepeda motor melintas cukup beraturan mengikuti jalur yang tersedia.

Bangunan pertama yang terlihat adalah kantor administrasi pelabuhan dengan petugas yang tengah melayani aktivitas konsumen. Kemudian selanjutnya adalah lapangan petikemas, penumpukan barang serta gudang.

Direktur Komersial dan Pengembangan Usaha Pelindo II Saptono R Irianto menuturkan bahwa Pelabuhan Teluk Bayur menyediakan beberapa fasilitas terminal, yaitu untuk semen, batu bara dan kontainer.

“Saat ini pelabuhan telah dilengkapi dengan peralatan modern pada setiap terminal. Karena diperuntukan untuk jenis barang, batu bara, semen, crude palm oil (CPO) dan komoditas yang menggunakan peti kemas seperti kayu, furnitur,” ungkapnya.

Jalur perdagangan ekspor luar negeri utama dari pelabuhan adalah menuju Amerika Serikat (AS), Asia, Australia dan Afrika. Sedangkan dalam negeri, adalah ke daerah-daerah di wilayah Jawa, seperti Tanjung Priok dan Tanjung Perak.

“Selama ini diketahui memang lebih memakan jalur daratan untuk transpotasi barang, sekarang dengan pembenahan pelabuhan ini menjadi lebih berkembang melalui angkutan laut,” sebut Saptono.

Menurutnya, Teluk Bayur adalah alternatif jalur angkutan laut dari wilayah barat Sumatera. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi dunia, perairan Selat Malaka sudah cukup padat dalam aktivitasnya perkapalan.

“Lalu lintas kapal melalui perairan Selat Malaka, dimana sekarang di kawasan tersebut sudah cukup padat. Sejalan dengan ekonomi dunia dapat timbulkan kondisi stagnan. Maka di perairan rute alternatif kapal selanjutnya paling mungkin adalah rute barat Sumatera. Dimana Teluk Bayur akan memainkan peran strategis, karena terbesar di wilayah barat,” paparnya.

LEAVE A REPLY