Home BERITA TERBARU Bekas Reruntuhan Perang Suriah Dipakai Untuk Latihan Parkour

Bekas Reruntuhan Perang Suriah Dipakai Untuk Latihan Parkour

213
0
SHARE

TS – Melompati atap yang bolong karena hantaman bom, atau menerobos melalui bingkai jendela yang rusak, adalah aksi yang dilakukan sekelompok remaja di Kota Inkhil, Suriah selatan.

Mereka menjadikan kawasan dengan gedung-gedung hancur akibat perang selama enam tahun sebagai tempat berlatih parkour.

Parkour (baca: paar-kuur) atau l’art du d√©placement (seni gerak) adalah aktivitas yang bertujuan untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan secepat-cepatnya.

Perpindahan itu sepenuhnya bertumpu kepada kemampuan badan manusia.

Adalah Ibrahim al-Kadiri yang berkenalan dengan parkour di Yordania, tempat dia melarikan diri dari perang.

Kini di Inkhil, Ibrahim mengaku sudah melatih 15 remaja. Inkhil terletak di garis depan pertempuran antara pemberontak dan pasukan pro-pemerintah. Kawasan ini mengalami serangan udara dan penembakan hebat selama konflik.

Parkour dikembangkan di Perancis pada 1980-an, dan telah menjadi populer di kalangan remaja. Para remaja yang tinggal di daerah krisis itu merasa menemukan pelarian pada olahraga parkour.

Ibrahim dan kelompoknya telah berlatih parkour selama dua tahun. Mereka sering berlatih di di halaman sekolah, dan pada hari-hari yang sepi. Tentu, saat tidak ada pertempuran.

” Parkour mengeluarkan kita dari atmosfir perang dan membuat kita melupakan rasa sakit dan kesedihan kita,” kata salah satu anggota parkour, Muhammad al-Kadiri.

Kadiri sehari-hari bekerja di toko ayahnya. Pada awalnya, keluarganya tidak setuju dengan kegiatan itu karena dianggap berbahaya.

Namun Kadiri terus membantah dan berlatih, demi memperoleh keterampilan baru.  Mereka merekam aksi-aksi mereka dan membuat foto-foto yang diunggah di media sosial Facebook.

” Parkour sangat menarik dan bergantung pada kebugaran fisik dan keterampilan,” kata Ayman, salah seorang penonton dalam satu sesi latihan.

“Tapi ini berbahaya, terutama karena mereka mencobanya di daerah yang hancur.”

Anggota kelompok itu mengatakan, parkour membawa mereka menjauh dari suasana perang dan membantu mereka melupakan kesedihan.

Namun, lompatan parkour juga bisa berbahaya. Anggota kelompok ini ada yang mengalami memar, hingga patah kaki saat berlatih.

Kadiri yang berusia 18 tahun menggambarkan kesenangannya. “Ketika saya melompat dari tempat yang tinggi, saya merasa bebas dan saya menikmatinya.”

“Saya suka berkompetisi dengan teman-teman untuk melihat siapa yang bisa mencapai lompatan tertinggi,” ungkap Kadiri. (kompas.com)

LEAVE A REPLY