Home BERITA TERBARU Cina Alami Kerugian Hingga 4 Miliar Dolar AS, Akibat Banjir

Cina Alami Kerugian Hingga 4 Miliar Dolar AS, Akibat Banjir

238
0
SHARE

BEIJING, targetsumbar.com – Banjir bandang di selatan Cina pada Selasa (4/7) waktu setempat membuat pembangkit listrik terbesar di dunia terpaksa harus dikurangi kapasitasnya. Banjir tersebut juga mengakibatkan jumlah korban jiwa yang terus meningkat menjadi 56 orang.

Banjir bandang tersebut mengakibatkan Cina mengalami kerugian biaya hampir empat miliar dolar AS. Cina juga harus menunda pengiriman gandum dan menghancurkan lahan pertanian di sepanjang Sungai Yangtze. Lebih dari 750 ribu hektare tanaman rusak, kerusakan tersebut menimbulkan kerugian ekonomi langsung mencapai lebih dari 25,3 miliar Yuan.

Menurut Kementerian Urusan Sipil, hujan lebat, tanah longsor dan hujan es yang disebabkan oleh musim hujan tahunan telah menewaskan 56 orang dan 22 orang masih hilang di 11 provinsi dan wilayah pada Selasa (4/7) pagi. Hujan di provinsi-provinsi selatan diperkirakan akan mereda dalam beberapa hari mendatang. Namun peramal cuaca memprediksikan hujan akan beraalih ke provinsi barat daya Sichuan.

Pemerintah Cina mengatakan telah mencairkan 700 juta Yuan untuk bantuan darurat ke empat provinsi yang dilanda banjir, yaitu Zhejiang, Jiangxi, Hunan dan Guizhou. Dua pembangkit listrik tenaga air terbesar di Cina, Three Gorges dan Gezhouba, harus ditutup sebanyak dua pertiga kapasitas biasanya. Untuk mencegah banjir lebih jauh ke hilir di Sungai Yangtze. Hal ini menurut para analis merupakan langkah yang beum pernah terjadi sebelumnya dalam skalanya.

Langkah tersebut juga memicu kekhawatiran pasokan listrik dari sumber tenaga terbesar itu saat gelombang panas terus menghanguskan bagian utara negara tersebut. Sehingga menaikkan harga ekspor batubara, bahan bakar yang digunakan negara itu untuk menghasilkan sebagian besar tenaganya.

Sementara itu batubara dari terminal Newcastle Australia naik kelevel tertingginya sejak April. Pemadaman listrik mengencangkan pasokan di tengah permintaan musim panas di utara belahan bumi utara.

Musim hujan tahunan yang tiba di paruh kedua bulan Juni itu telah melanda provinsi Hunan selatan. Daerah tersebut merupakan salah satu produsen ikanair tawar dan babi terbesar di negara itu. Tingkat air yang tinggi di Sungai Yangtze yang merupakan sungai terbesar di Asia juga memperlambat tongkang yang membawa gandum dari pelabuhan utara ke selatan. Hal ini kemudian memacu kenaikan tarif pengangkutan dan harga jagung di beberapa daerah. (Rplika)

LEAVE A REPLY