Home BERITA TERBARU Demokrasi Barat Sudah Merusak Minangkabau

Demokrasi Barat Sudah Merusak Minangkabau

282
0
SHARE

By: Emeraldy Chatra

Beberapa bulan yang lalu saya membuat survei kecil-kecilan untuk menguji persepsi orang terhadap pernyataan ‘Minangkabau sudah mati’. Hasilnya, lebih 35% setuju dengan pernyataan itu. Artinya, sepertiga orang Minangkabau yang jadi responden memang berpikir bahwa Minangkabau itu sudah tidak ada lagi. Sudah mati.

Sebagai orang Minangkabau bagi saya persetujuan itu menyesakan dada. Implikasi ‘kematian Minangkabau’ sangat luas. Baik untuk masa sekarang maupun masa depan. Ketika Minangkabau sudah dianggap mati, maka wacana yang mengagungkan kebaikan-kebaikan Minangkabau telah jadul pula. Semua tinggal kenangan, hanya sekedar puja-puji untuk sesuatu yang sudah tidak ada.

Tapi benarkah Minangkabau itu sudah mati? Kalau memang mati, apa sebabnya?

Sebagai sebuah kebudayaan tampaknya benar bahwa Minangkabau itu tinggal jasadnya saja. Orang masih melihat rumah gadang, pakaian pengantin, bahasa, serta material-material lain yang menunjukkan eksistensinya. Tapi jasad saja tidak cukup untuk sebuah kehidupan. Hidup perlu ruh dan mantagi (spirit). Jika hanya ada jasad dan ruh, tanpa mantagi, namanya mati suri.

Ruh kebudayaan itu terletak pada nilai-nilai, dan selama nilai-nilai itu dipakai kebudayaan “akan tetap hidup”. Untuk menjadi kebudayaan yang dinamis, yang berguna untuk menghadapi carut-marut kehidupan ia perlu mantagi, yaitu kemampuan para pendukung kebudayaan untuk merevisi nilai-nilai sesuai tuntutan zaman.

Sekarang nilai-nilai kebudayaan Minangkabau dalam pengamatan saya sudah hampir sempurna ditinggalkan. Itu penyebab kematian budaya. Bila ruh kebudayaan sudah tidak ada, dengan sendirinya mantagi juga akan raib.

Dari sisi saya, ruh kebudayaan Minangkabau berupa hubungan mamak dengan kemenakan. Ketika hubungan tersebut hancur, hilanglah ruh kebudayaan dan wafatlah Minangkabau itu.

Hubungan mamak dengan kemenakan itu dirumuskan sbb.:

Kamanakan barajo ka mamak, Mamak barajo ka pangulu, Pangulu barajo ka mufakat, Mufakat barajo ka Nan Bana, Nan Bana badiri sandirinyo

Tafsir atas rumus di atas, kemenakan itu harus punya kepatuhan kepada mamak, dan mamak patuh pula kepada penghulu. Penghulu tidak patuh kepada penghulu lain, tapi patuh kepada “Permufakatan. Permufakatan yang dapat dipatuhi adalah yang mengikuti Nan Bana (Allah SWT), bukan permufakatan jahat yang bersandar kepada nafsu manusia.

Ketika demokrasi Barat diajarkan kepada orang Minangkabau kepatuhan kepada mamak itu “menjadi korban”. Kemenakan tidak lagi menghargai, apalagi patuh kepada mamaknya. Mamak pun tidak mematuhi penghulu dan senang berjalan sesuka hati mereka. Demikian pula penghulu, tidak lagi mematuhi permufakatan. Ujung dari semua itu, tidak ada lagi kepatuhan kepada Nan Bana (Allah). Maksiat dan kedurhakaan kepada Allah menjadi sesuatu yang lumrah.

Saya menganologikan masyarakat Minang sebagai legiun militer. Kemenakan adalah prajurit. Mamak itu komandan kompi. Prajurit tidak boleh berunding dengan mamak. Tugasnya adalah melaksanakan perintah mamak. Komandan kompi pun harus mematuhi komandan yang tertinggi, para penghulu, yang jadi jendral mereka.

Penghulu, para jendral boleh bermusyawarah dan bermufakat dengan jendral-jendral yang lain dalam posisi “duduak samo randah, tagak samo tinggi” (duduk sama rendah, berdiri sama tinggi). Jendral tidak boleh bermusyawarah dengan prajurit. Namun, sejak demokrasi Barat diperkenalkan aturan-aturan itu menjadi “hancur lebur”. Prajurit sekarang malah ada yang dengan kurang ajarnya memaki-maki jendralnya sendiri.

Apakah mungkin budaya yang mati itu akan hidup kembali?. Budaya bukan manusia yang sekali mati akan tetap mati. Harapan untuk hidup kembali tentu tetap ada. Tapi semua terpulang kepada kemenakan, mamak dan penghulu. Kalau mereka sepakat akan menghidupkan kembali budaya Minangkabau, akan ada jalan ke arah itu. Sebaliknya kalau mereka sepakat membiarkannya terbujur kaku tanpa ruh, itu pun akan terjadi.

LEAVE A REPLY