Home BERITA TERBARU Rekam Jejak Ketua Dewan Pers, Yosep Stanley Adi Prasetyo

Rekam Jejak Ketua Dewan Pers, Yosep Stanley Adi Prasetyo

418
0
SHARE

Bila kita melirik rekam jejak Ketua Dewan Pers ini (Yosep Stanley Adi Prasetyo), memang patut untuk di acungkan jempol. Selain banyaknya tantangan yang ia lalui, jurnalis dan aktivis tak bisa dipisahkan dari sosok diri Stanley. Sebab, perlawanannya terhadap penguasa Orde Baru lewat tulisannya, membuat ia terancam dipenjarakan. Akan tetapi semangatnya untuk memperjuangkan kebebasan pers, kebebasan berserikat, memantapkan dirinya di dunia ini. Pasca Era Reformasi bergulir, mengantarkan dirinya memimpin Komnas HAM dan Dewan Pers.

Namun peran Stanley, berbeda. Kalau sebelumnya, ia bergerilya menuntut kebebesan pers, kini dirinya harus menjaga dan merawat kebebasan pers dalam koridor kode etik demi peradaban bangsa.

Pers Harus Merawat Kewarasan Bangsa Ini,” pesannya sewaktu membuka National Assessment Council Indeks Kemerdekaan Pers Indonesia, ditahun 2016 lalu.

Yosep Stanley Adi Prasetyo atau lebih dikenal Stanley lahir di Kota Malang, 20 Juni 1959. Masa kecilnya dihabiskan di kota kelahirannya. Usai menamatkankan sekolah menengah di SMAK St. Albertus, Malang, Stanley dalam usia 21 melanjutkan kuliah di Teknik Elektronik Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.

Setelah lulus dari Satya Wacana, pada 1988, dirinya terus mengabdi di almamaternya. Stanley sudah menjadi dosen sejak empat tahun saat ia masih kuliah. Setahun dari kelulusannya, dia tertarik menggeluti dunia jurnalistik. Pada tahun 1990, Stanley telah menjadi wartawan Majalah Jakarta-Jakarta.

Di tengah kesibukannya menjadi seorang jurnalis, pada tahun 1994, ia bersama teman-teman jurnalis dan aktivis lainnya mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Sebagai bentuk perlawanan atas rezim Orde Baru, yang hanya mewajibkan seluruh wartawan bergabung dengan organisasi PWI.

Sejak itu, Stanley hidup antara jurnalis dan aktivis. Ia dan teman-teman lainnya menjadi incaran rezim Orde Baru untuk dipenjarakan. Bahkan ia menjadi salah satu target penangkapan pemerintah saat bukunya beredar Memoar Oei Tjoe Tat, Bayang-Bayang PKI, dan Saya Musuh Politik Soeharto. Yang pasti ia juga menjadi salah satu dari 13 wartawan yang dipecat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Meski dikekang dan dibatasi aktivitasnya, ia tetap berjuang untuk kebebasan berpendapat, kebebasan pers, dan kebebesan ber-organisasi. Yosep tetap berjuang dan berkarier di dunia media dan aktivis.

Stanley pun mulai membangun pelatihan jurnalistik di Institut Studi Arus Informasi (ISAI) Jakarta, School for Broadcast Media (SBM), hingga menjadikan dirinya dipercaya sebagai Direktur PT MELIN yang membawahi KBR 68H dan Radio Namlapan.

Pada tahun 2000, Stanley mulai konsentrasi tak hanya soal pers, tapi juga soal HAM. Namanya, mulai diterima oleh pihak pemerintah. Ia menjadi narasumber berbagai seminar tentang kebebasan dan HAM. Bahkan pada tahun 2005, ia menjadi Tim Pokja Reformasi POLRI yang dibentuk POLRI-Kemitraan dan ikut menyusun academic paper Konsep Pertahanan Republik Indonesia.

Kariernya terus berlanjut, saat dirinya terpilih menjadi komisioner Komnas HAM periode 2007-2012. Pada periode berikutnya, ia kembali mencalonkan diri, sayangnya gagal. Meskipun tak menjadi angota Komnas untuk kedua kalinya, itu bukanlah segalanya. Ia  diusulkan oleh masyarakat untuk menjadi anggota Dewan Pers. Dan akhirnya dia pun terpilih pada periode 2013-2016.

Di periode berikutnya, Stanley lolos uji kelayakan yang digelar DPR RI, dan kembali berjuang di Dewan Pers untuk masa jabatan 2016-2019. Yang diputuskan dalam rapat pleno nan dihadiri oleh sembilan anggota, dimana Stanley dipercaya menjadi Ketua Dewan Pers menggantikan Prof. Bagir Manan.

Pendidikan

SMAK St. Albertus, Malang

S1, Fakultas Teknik Jurusan Elektro Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Jawa Tengah (1980-1988)

Karier

Pengajar di Fakultas Teknik Universitas Kristen Satya Wacana (1984-1989)

Wartawan Majalah Jakarta-Jakarta (1990-1994)

Pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI), 1994

Koordinator Program Bidang Media Alternatif di Institut Studi Arus Informasi (ISAI) Jakarta (1995-1999)

Dosen Fikom Universitas Tarumanagara, Jakarta

Anggota Tim Adhoc Kerusuhan 13-14 Mei 1998 (2003)

Dosen Universitas Kristen Satya Wacana

Anggota Tim Adhoc Kerusuhan 13-14 Mei 1998 (2003)

Anggota Pokja Reformasi Polri (2003)

Anggota Majelis Etik AJI (2003-2005)

Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara Jakarta (2007)

Anggota Kehormatan Seumur Hidup Aliansi Jurnalis Timor Leste (AJTL)

Direktur School for Broadcast Media (SBM)

Direktur PT MELIN yang membawahi KBR 68H dan Radio Namlapan

Direktur Eksekutif Institut Studi Arus Informasi (ISAI)

Wakil Ketua dan Komnas HAM 2007-2012

Anggota Dewan Pers 2013-2016

Ketua Dewan Pers 2016-2019.

LEAVE A REPLY