Home BERITA TERBARU Penerapan PSBB, Provinsi Jatim Akan Lebih Represif

Penerapan PSBB, Provinsi Jatim Akan Lebih Represif

54
0
SHARE

Surabaya, Target Sumbar – Sub Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jawa Timur akan lebih represif dalam melaksanakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Surabaya Raya yang meliputi Surabaya, sebagian Kecamatan di Gresik dan Sidoarjo. Salah satunya bagi masyarakat yang ketahuan suhu badannya panas saat masuk ke wilayah PSBB langsung di bawah ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur.

Masyarakat yang ketahuan suhu badannya panas saat di check point, tim gabungan tidak akan segan-segan membawa ke Rumah Sakit Jiwa Menur.

Rumah Sakit Jiwa Menur telah disiapkan 112 tempat tidur  ruang isolasi untuk menangani orang yang memiliki gejala Covid-19. Ketua Sub Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jatim, Heru Tjahjono mengatakan, dalam evaluasi PSBB hingga hari ketiga arus lalu lintas masih lancar.

Namun menurut Heru, masih banyak orang masih berkunjung ke wilayah PSBB.  Untuk itu dalam rapat  sub Gugus tugas bersama forum komunikasi pimpinan daerah (Forkompinda) telah diputuskan beberapa langkah yang sedikit represif saat pemberlakuan PSBB.

Salah satu poin dalam hasil rapat itu adalah masyarakat yang kedapatan  berboncengan di check point langsung diturunkan di lokasi tersebut. Begitu juga pengendara yang tidak memakai masker akan diminta putar balik dan dilarang masuk ke Surabaya.

“Yang berboncengan diturunkan disitu. Yang tidak pakai masker harus putar balik. Yang kendaraan roda empat harus satu baris satu orang,” ujar Heru saat jumpa pers di Grahadi, Jumat 1 Mei 2020.

Mantan Bupati Tulungagung itu menegaskan, masyarakat yang ketahuan suhu badannya panas saat di check point, tim gabungan tidak akan segan-segan membawa ke Rumah Sakit Jiwa Menur. Begitu juga halnya Sidoarjo dan Gresik akan dibawa ke rumah sakit terdekat.

“Kalau di Surabaya langsung dibawa ke Rumah Sakit Jiwa Menur. Begitu panas dibawa ke Menur. Sidoarjo ya begitu, Gresik ya begitu. Diantar oleh penanggung jawab masing-masing kabupaten/kota,” tutur Heru.

Heru menjelaskan Covid-19 memang bisa ditanggulangi dengan menerapkan pola jaga jarak sosial (sosial distancing) dan cuci tangan. Namun yang menjadi problem adalah di pasar karena pembeli biasanya berdesak- desakan. “Kalau di pasar apa bisa sosial distancing karena desak-desakan,” kata Heru dengan nada tanya.

Untuk menerapkan sosial distancing, beberapa fasilitas umum, seperti pasar, dan kebun binatang untuk sementara ditutup. Sedangkan mal hanya diperkenankan menjual kebutuhan obat dan makanan. “Prinsipnya besok akan lebih refresif lagi yang akan dilakukan,” ujar Heru.

Heru pesimistis jika selama 14 hari PSBB tidak ada aturan yang lebih tegas, hasilnya tidak akan signifikan. Selama PSBB akan diberlakukan pembatasan jam malam yakni cafe hanya diperkenankan buka sampai jam 20.00 WIB. “Kalau ada yang masih buka langsung ditutup,” tuturnya.

Sementara perkembangan  sebaran Covid-19 di Jatim hingga Jumat 1 Mei 2020, ada tambahan 80 orang yang terkonfirmasi positif. Tambahan itu dari Surabaya 58 pasien, Sidoarjo 8, Gresik tiga, Lumajang dan Pacitan masing-masing bertambah dua orang. Selanjutnya Magetan, Lamongan, Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Nganjuk, Bojonegoro, dan Bangkalan, masing-masing satu pasien. Dengan tambahan 80 orang ini, total ada 1031 pasien yang positif  Jatim.

Sedangkan pasien yang sembuh bertambah empat  orang, yakni dari Lumajang dan Bangkalan dua orang, dan Kota Kediri dua orang. Dengan demikian pasien yang sembuh menjadi 165 orang.

Untuk pasien yang meninggal bertambah tujuh yakni dari Surabaya lima orang, Lumajang dan Gresik dua orang. Dengan begitu, totalnya menjadi 107 orang. Sebanyak 19585 orang dalam pemantauan (ODP). Dari jumlah itu 3131 orang pasien dalam pengawasan (PDP).

LEAVE A REPLY