Home BERITA TERBARU Prabowo vs Gatot: Ormas KAMI Mendukung Keras GN Maju Capres 2024

Prabowo vs Gatot: Ormas KAMI Mendukung Keras GN Maju Capres 2024

136
0
SHARE

Jakarta, Target Sumbar – Persiapan yang sedang dibangun oleh KAMI bagian dari strategi menuju 2024. Sosok Gatot Nurmantyo (GN) jadi simbol utama perlawanan, menuju pertarungan politik nasional 2024 nanti, capres dan cawapres semakin kencang kombinasi sipil- militer atau militer- sipil.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (LAKSAMANA), Samuel F. Silaen melalui keterangan tertulisnya kepada BentengSumbar.com, Selasa, 22 September 2020.

“Jelas sekali terlihat bahwa sosok yang dijagokan KAMI itu bernama jenderal purnawirawan TNI Gatot Nurmantyo yang biasa disapa dengan inisial GN. Bukan kebetulan semua persiapan itu sudah dirancang matang oleh tim yang bekerja di balik layar. Pendirian ormas KAMI sebagai wadah sosialisasi GN kepada seluruh lapisan masyarakat,” tegasnya.

Dikatakan Silaen, tim yang sudah siap ber’perang’ menghadapi tarung bebas di 2024. GN menyadari betul bahwa dia tidak punya partai politik (parpol) tapi dia juga yakin bisa sewa atau rental partai politik sebagai perahu menuju pertarungan pilpres 2024. Atau mungkin juga sedang membuat partai politik sebagai sekoci serep.

“Kalau bicara finansial GN sungguh siap, karena itu sudah pernah diucapkan oleh Mantan Kepala Staf Kostrad Kivlan Zein menyatakan, Gatot memiliki kekuatan finansial untuk menjadi capres. Bahkan dikatakan lebih kaya dari Prabowo Subianto (PS) waktu disampaikan April 2018,” pungkasnya.

“Persoalan sekarang ini tak melulu soal uang tok, tapi GN belum punya perahu, sementara PS sudah punya Gerindra. Gencarnya ‘promosi’ yang dilakukan oleh GN bersama ormas KAMI merupakan cara untuk mendapatkan dukungan dan simpati dari masyarakat luas,” ujar pengamat sosial politik itu.

“GN sadar betul kalau bukan sekarang kapan lagi, itu sudah dikalkulasi secara detail, perjuangan dalam mengkapitalisasi dukungan rakyat seiring waktu akan makin membesar, kecuali GN melakukan blunder politik yang dahsyat. Penolakan kehadiran KAMI merupakan bagian dari agenda setting politik teraniaya,” tutur Silaen.

Dikatakan Silaen, Capres yang paling siap selain PS adalah GN siap maju bertarung di 2024. Pro kontra KAMI ini akan semakin menyuburkan dukungan buat kerja-kerja politik menuju pesta akbar 2024. Hitungan Silaen, akan semakin besar pula peluang GN mendapatkan rental perahu.

Silaen melihat, jualan KAMI ini kental dengan ‘jubah agama’ karena itu yang masih laku keras ditengah masyarakat yang hipokrit.

“Yang namanya jualan, pasti yang laku dijual, nah kebetulan yang paling laris dan laku dijual itu ya politik dengan bungkusan agama. Yang tak disadari atau mungkin saja disadari, efek dari jualan tersebut, tapi kan bagaimana bisa menang meski dengan menghalalkan segala cara, tentu saja dilakukan oleh masing- masing timses,” beber Silaen.

Menurutnya, yang perlu diatur oleh pemerintah dan legislatif adalah efek domino sosial dimasyarakat. Karena tentu saja kemenangan yang didapat tersebut, tak sebanding dengan kerusakan sosial dan tatanan bermasyarakat yang timbul akibat cara-cara yang tidak elegan dan beradab.

“Inilah yang harus dilakukan oleh negara dalam rangka melindungi segenap rakyat Indonesia dari keretakan sosial yang dapat menimbulkan kerawanan sosial akut. Rakyat harus dididik dan dicerdaskan terus- menerus oleh elite politik, tokoh masyarakat, pengamat dan akademisi untuk menerima kemajemukan dan perbedaan yang ada, baik suku, agama, adat istiadat yang ada di bangsa ini,” jelas Silaen.

Silaen menegaskan, kontestasi siklus politik 5 (lima) tahunan harus dimaknai sebagai pestanya rakyat Indonesia untuk memilih pemimpin. Rakyat harus diajak bergembira bersama. Jangan sampai ada kelompok tertentu yang merasa paling berjasa di dalam perjalanan bangsa ini. Masing- masing pelaku sejarah yang terdiri dari berbagai suku, agama, ras dan golongan nyata sumbangsih dan baktinya buat kemerdekaan Republik Indonesia.

“Elite, penguasa, tokoh masyarakat, pengamat dan akademisi saling menjaga diksi politik yang diumbar kepublik. Jangan terlalu berlebihan banget. Sebab sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Membangun diksi penegasian kelompok tertentu akan mempersulit bangsa ini menuju kemajuan yang adil dan beradab,” saran Silaen.**

LEAVE A REPLY