Home BERITA TERBARU (Eds 02) Sepatu Butut Ditengah Perjanjian Yang Tak Kunjung Terealisasi

(Eds 02) Sepatu Butut Ditengah Perjanjian Yang Tak Kunjung Terealisasi

315
0
SHARE

Wajah lelah itupun menjawab, “Anakku, semua pohon coklat ini tumbuh sehat, angin serta kumbang- kumbang membantu proses dari bunga ke buah. Alam disekitar kita begitu baik terhadap kehidupan kita. Cuma negeri kita ini telah dikuasai oleh manusia- manusia serakah. Mereka pengeruk hasil bumi negeri kita ini tanpa memikirkan nasib kita. Batu kapur yang keras itu diledakan dengan bahan peledak, getaran itulah yang menggugurkan buah-buahan coklat serta buah-buahan lainnya dinegeri kita yang kaya ini nak,” ucapnya seraya melihat ke arah bukit batu kapur sumber bahan perekat serta penguat disudut negeri ini.

Wajah tak berdosa itupun turut menoleh kearah bukit batu kapur yang telah turut berkontribusi terhadap pemanasan global dunia tersebut.

Perasaan kesal serta geram terpampang diwajahnya yang kecil seraya berucap, “ayah, mereka orang mana ayah..? kenapa mereka mengambil batu kapur milik daerah kita ini sesuka hati mereka..? apa yang kita dapat dari mereka ayah..? untuk sebuah keserakahan materi mereka, kenapa kita yang menjadi korban ayah..?

Dengan nada putus asa, sang ayah pun menjawab pertanyaan Rafel.

“Anakku, sebahagian kecil dari mereka yang bekerja itu adalah anak negeri ini sebagai buruh kasar, namun sebahagian besar dari mereka merupakan pendatang dinegeri kita ini. Negeri kita ini kaya akan sumber daya alam anakku. Bebatuan dibukit leluhur kita itu merupakan sumber bahan baku perekat pasir dan batu.

Karena bukit itu, tidak sedikit leluhur kita menjadi korban kerja paksa, harta serta nyawapun dulunya tidak berharga demi berdirinya pabrik dengan hasil nomor satu di dunia itu.

Meski sekarang telah menjadi milik negara kita, namun sifat- sifat yang haus akan kekuasaan itu tetap bersemi dijiwa- jiwa mereka yang serakah. Politik Devide et impera yang merupakan warisan kolonial Belanda, mereka gunakan sebagai jurus ampuh untuk memecah belah masyarakat negeri ini. Mereka yang siap dibodohi dan mau untuk membodohi diberikan kasta, pangkat, pekerjaan, uang maupun kenikmatan. Begitulah cara mereka membodohi sesepuh negeri ini, sehingga harta yang tidak ternilai itu dengan leluasa mereka keruk.

Anakku, ditengah gelimang ketamakan yang menari diatas penderitaan negeri ini, terselip sebuah rahasia dan perjanjian besar yang sangat dapat memakmurkan setiap jiwa penduduk negeri ini setiap tahunnya.

“Ungkaplah rahasia itu wahai anakku. Semoga sepatu butut yang menemani langkahmu tidak lagi jadi rebutan bagi anak- anak negeri ini”. (Red)