Home BERITA TERBARU Kupon Sakti Sang Supir (Eds 03) “Rahasia Besar”

Kupon Sakti Sang Supir (Eds 03) “Rahasia Besar”

310
0
SHARE

By: Yohandri Akmal

Dengan suara sedikit berbisik, melongok ke kiri dan ke kanan. Metek Jenggo mulai mengupas rahasia besar permainan curang oknum polisi di jembatan timbangan itu kepada kami.

“Tau ngak kalian..? setiap hari kerja. Diperkirakan kupon yang terkumpul mencapai ratusan lembar, dihitung dan dicatat berdasarkan warna kupon sakti sang supir itu. Setelah usai, laporannya diserahkan kepada kepala timbangan”. Bisik Metek Jenggo dengan segenap ditahan. Wajahnya sedikit menunduk, menandakan tak ingin ada orang lain yang mendengarnya.

“Wess.. Hebat tenan Metek Jenggo yaach…” Puji Budi ke dia.

“Sebelumnya kan sudah saya bilang. Kalau saya tahu banyak tentang persoalan di timbangan itu, hingga ke dapur-dapurnya”. Pungkas Metek Jenggo makin berbangga diri.

Emangnya rumah makan, ucapku dalam hati.

Melihat cahaya wajah Metek Jenggo makin bersinar. Budi mulai menggunakan ilmu deduksi nya. Kemampuan komunikasi yang dimiliki Budi. Bereaksi sudah, pujian demi pujian di hembuskan kepada Metek Jenggo, membuat bibir Metek Jenggo menjadi komat kamit.

Menurutku, selain ilmu IT (ahli komputer) dikuasai Budi. Dia juga memiliki ilmu komunikasi yang diperhitungkan kawan-kawan sesama wartawan. Dengan kemampuannya itu, menjadikan ia dibutuhkan oleh banyak orang, termasuk seorang Konglomerat kaya raya di Kota Pekanbaru. Yakni Jufri Zubir, salah satu calon Walikota Pekanbaru. Setahuku, Budi termasuk orang yang sangat dekat dengan konglomerat itu.

Masih teringat dipikiran ku. Empat tahun silam, aku sering mengajarkan Budi terkait tugas dan fungsi profesi Wartawan. Bagaimana cara penulisan sebuah berita, baik berita investigasi maupun berita ringan. Teknis wawancara sering ku presentasikan kepadanya.

Alhamdulillah, ilmu jurnalistik yang ku ajarkan. Makin hari semakin dikuasinya, sehingga menjadikan dia sekarang lebih mahir daripada aku. Penulisan storytelling jurnalism dikuasainya. Dimata kawan-kawan, Budi memang dikenal memiliki kemampuan berbeda. Cepat tanggap, tak pernah menyerah, itulah karakternya.

Puluhan situs/website telah dibuatnya. Semua itu, pesanan para pengusaha portal berita, para pelaku pebisnis online lainnya pun banyak menjadi relasinya. Makin hari makin bertambah. Saking banyaknya, menjadikan dia sering dipanggil para pelanggannya itu pada jam yang sama, termasuk diriku.

Membahas begruond tentang Budi ini, memang tidak akan habis-habisnya. Bisa-bisa storytelling yang ku tulis, terundung hanya untuk mengisahkan tentang dirinya saja.

Yaach itulah sosok Budi. Manusia langka, memiliki performance unik, kemistri yang tak pernah putus-putusnya. Setiap dia dimintai tolong oleh rekan-rekan, tak pernah sekalipun ditolaknya. Jasa yang diberikan, khususnya dibidang IT, tak pernah diperhitungkannya. Penyabar dan selalu menjaga perasaan kawan, paling menonjol dalam dirinya.

Baiklah, kita kembali ke judul, yakni kupon sakti sang supir. Sebenarnya, Metek Jenggo telah panjang lebar Mengutarakan banyak hal tentang permasalahan di jembatan timbangan itu, kepada ku dan Budi. Namun untuk kali ini, pemaparannya tadi itu, tak satupun yang tersimpan di memori ku. Akibat terlarut merenungi rekam jejak Budi sebelum ini.

Begitu aku kembali bertanya kepada Metek Jenggo. Sontak, ekspresi Budi langsung berubah, tiba-tiba dia mencemoohkan aku.

“Bang, pertanyaan mu itu, barusan telah berkali-kali dijelaskan Metek Jenggo, kok ditanya lagi, kayaknya udah mulai pikun deh” ledek Budi ke aku.

Ohh.. gitu yach, kayaknya belum dijelaskan. Sanggah ku membela diri, menutupi rasa malu.

Belum tua,. Sudah pikun. Timpa budi lagi, terlihat seperti membalas ledekan ku sebelumnya.

Metek Jenggo, tak merasa mempermasalahkan pertanyaan ku itu. Tanpa keberatan, dia kembali memaparkannya.

“Setiap aku mampir, semua petugas jembatan timbangan itu, cukup baik kepada ku. 24 jam bertugas tanpa kenal lelah. Saling berganti sif, antara sif pertama dengan sif kedua. Sayangnya mereka bertugas terlihat hanya untuk mengumpulkan kupon sakti sang supir saja. Memiriskan” jelas Metek Jenggo.

“Menurut Metek, bagaimana karakter Kepala Jembatan Timbangan itu” lanjutku kembali bertanya.

Begitu mulut Metek Jenggo mulai menjelaskannya. BAAARRR….. tiba-tiba terdengar suara dentuman keras, tidak jauh dari tempat kami duduk… Bersambung..