Home BERITA TERBARU Kupon Sakti Sang Supir (Eds 06) “Memalukan”

Kupon Sakti Sang Supir (Eds 06) “Memalukan”

290
0
SHARE

By: Yohandri Akmal

Bibir tebal Indra Leo seperti menari, terus mengkritisi kupon sakti sang supir. Hatinya serasa terbakar, Ia tidak terima permainan curang oknum polisi itu. Lembaga Negara harus dijunjung tinggi, bukan untuk dilecehkan, bukan untuk dipermainkan. Segelintir oknum polisi yang tidak memiliki kepribadian baik itu, musti ditindak  tegas.

Indra Leo tak habis pikir, dari empat oknum polisi yang bermain tersebut ada yang telah pensiun. Sanksi tegas sepantasnya diberikan kepada mereka dan Kepala jembatan timbangan. Kapok dan keok harus dirasakanya. Agar tidak ada lagi petugas lapangan di jembatan timbangan dijadikan budak catur pengumpul kertas kupon, pencatat nomor polisi kendaraan.

Benar-benar luar biasa. Sebagai kepala timbangan, Dia sudah berurat menjabat disana, licik dan banyak akal-akalan. Seenaknya mengutak atik petugas bawahan. Bekerja menjalankan amanah Undang-undang, tak lagi dilaksanakan, justru mencari keuntungan tuk memperkaya diri sendiri

“Banyak yang tak suka bajai. Kenapa ada pejabat pelaksana tugas sebuah Lembaga Negara, memiliki mental bobrok. Parahnya, yang sudah pensiun masih juga bisa memainkan kertas kupon” geleng Indra Leo seakan meminta kami menjawab.

Aku terdiam sejenak. Sebagai warga negara, aku juga tak terima. Perilaku oknum tidak bermoral itu harus dihentikan, termasuk pensiunan polisi itu.

“Memiriskan..!, Lembaga Negara dilecehkan” aksen Budi terpancing emosi.

“Tepat sekali Bud, seperti itulah adanya. Memalukan..!” sahut Indra Leo.

“Ini tidak boleh dibiarkan, sebagai sosial control setidaknya da In konfirmasi ke pimpinan jembatan timbangan itu” usul ku menekan.

“Percuma Mal, antara pimpinan dengan oknum polisi itu saling bermain, terstruktur dan tersistem. Petugas lapangan jembatan timbangan dijadikan badut bodoh yang siap diperintah apa saja. Perselingkuhan kupon sakti sang supir diatur sedemikian rupa. Berjalan aman dan terkendali, itulah misi pertama mereka. Catat mencatat Nomor Polisi kendaraan adalah misi kedua. Pundi-pundi uang panas dapat diperoleh pimpinan dengan mudahnya.

Bagi mereka, asalkan bisa kaya..?, pelecehan Undang-undang dan Lembaga Negara, tidak dipikirkan otaknya. Pimpinan jembatan timbangan itu berhati ubu-abu tidak seputih baju dinasnya.” Geram Indra dengan muka mulai memerah.

“Andaikan saya menjadi orang nomor satu di paparan tanah minang ini, pimpinannya bakal saya tindak tegas. Kepala timbangan saya pecat. Praktek kupon sakti sang supir, catat mencatat nomor polisi kendaraan dipastikan berhenti sudah. Petugas lapangan jembatan timbangan itu tak lagi menjadi budak catur” gerutu Indra Leo.

“Andaikan Ganjar Pranowo gubernur kita, pasti habis dibuatnya. Itu sudah dibuktikannya,ia gubernur tegas dan berani. Apalagi Ahok, jangan ditanya lagi, bisa-bisa masuk karung dibuatnya. ggak bakalan diberi ampun, pecat ditempat pasti dilakukan”  timpa Budi mengikuti.

Semua system yang berlaku dijembatan timbangan itu. Diatur pimpinan bersama segelintir oknum polisi itu. Petugas pion-pion ditimbangan lama kelamaan bisa menjadi cecunguk saja. Benar juga ucap da In tadi itu. Pion-pion dijadikan budak catur. Kepala timbangan dan oknum polisi itu, tiap minggunya dapat nikmati laba, layaknya pedagang tanpa saingan. Gaji diterima uang panas pun jangan ditanya. Luaar biasaa..!, sentak ku mengiringi Budi.

Menyoal tentang bajai, pita kaset bisa kusut dibuatnya. Kepala timbangan yang masuk semaunya. Duapuluh menit datang, seminggu hilang entah kemana. Lebih parah jika dibandingkan dengan bang toyip, dua puluh menit datang seminggu hilang tak ketimbangan. Jemput uang dan kupon sakti sang supir saja.

Diskusi kami bertiga diwarung soto serasa makin seru. Mataku berganti arah memandangi trotoar jalan Adi Negoro, Lubuk Buaya, Kota Bengkuang. Tiba-tiba motor Jupiter Z merah mendadak berhenti tepat disebelah Yamaha Vixion hitamku. Badannya sedikit tinggi sekira 167 cm. Helm putih dengan jaket birunya terlihat seperti pembalap kacangan saja. Celana jeans robek ditengah, persis seperti tayangan iklan artis lawak komeng bercelana robek memacu motor Yamaha nya. Seketika dia pun memasuki warung soto.

Wajah ini lumayan tampan namun rambutnya terlihat berantakan, hidung mancungnya mengurangi cahaya muka yang terlihat kusam. Menurutku, mungkin akibat debu disepanjang jalan tadi itu. Seiring senyum slengeeannya pun mulai menyapa, seperti pujangga langsung menyalami kami bertiga.

Tiada lain, dialah Willy Andrean, umur yang masih muda sekitar 24 tahun. Salah satu wartawan targetsumbar bidang investigasi. Perilakunya terkadang membosankan kawan-kawan. Perjuangannya tak pernah berhenti tuk mencari teman wanita sejati.

Tipe uniknya selalu mengejar mimpi, keinginan tuk dapatkan wanita yang bisa diajak kuat berdiri mengarungi kehidupan ini, tak pernah didapati. Meskipun gigih, jika hidup penuh hayal tidaklah ada arti. Anehnya, dia tak pernah menyerah sampai saat ini.

“Begini bang, aku dua hari kemarin sudah menelusuri warga yang tinggal di bukit karang batu gadang itu. Aku berhasil menampung aspirasi dan keluhan warga miskin sekitaran tambang milik perusahaan besar ditanah minang ini” cakap Willy, memulai pembicaraannya.

Sepak terjang Willy setiap aku memberikan tugas, selalu membawakan hasil. Gigih dan yakin, itulah karakter yang menonjol dalam dirinya. Hoby mengkoleksi fhoto binatang kawin paling diutamakannya. Terkadang aku serasa heran.

“Mantap lah Wil.., trus apa saja dokumentasi yang berhasil kamu himpun. Jepretan fhoto binatang kawin pasti banyak dong” ledek budi menikung Willy.

Senyum Willy, terlihat tak mau menjawab ledekan itu, seakan-akan tak menghiraukannya.

“Ini bang, hasil rekaman dan puluhan fhoto warga miskin itu” jelas Willy sembari memperlihatkan dokumentasi yang tersimpan dalam kameranya ke aku.

Luar biasa Wil, kamu benar-benar pahlawan bagi masyarakat tertindas disana, korbankan waktu, materi, tenaga dan pikiran hanya untuk membantu aspirasi mereka. Mudah-mudahan TUHAN melindungi setiap kamu ke kaki bukit karang.

Aku berharap TUHAN segera membukakan hati pejabat perusahaan besar itu. Sudah semestinya warga dan Nagari mendapatkan haknya. Mereka itu ciptaan Yang Maha Kuasa. Jangan lagi ada yang meratap, jangan lagi ada yang digilas, jangan lagi ada warga yang merasa miliknya dirampas.

Hak memperoleh lingkungan hidup yang bersih dan sehat harus mereka dapatkan. Serasa pikiranku melayang, larut dalam bayangan ketidak adilan.

Menurutku, TUHAN menciptakan bumi ini bukan untuk dirusak. Keruklah kekayaan karang itu, tapi hindari pengrusakan lingkungan. Kelolalah tanah leluhurnya tapi bayarkan hak negeri mereka, jangan lagi di ingkari. TUHAN maha tahu, setiap ciptaan harus dikasihi bukan dizolimi. Rundungku dalam hati.

“Kok kelihatan merenung bang..!” mendadak Budi mengagetkanku.

“Aku bukanya merenung Bud, aku sedang memikirkan bagaiman cara menghentikan permainan kertas kupon sakti sang supir itu” balasku terpaksa berbohong.

“Ada solusi jitu untuk menghentikannya Mal” pungkas Indra Leo percaya diri.

“Apa itu da In” sorong Budi penasaran.

“Mengacu dari surat edaran …. Bersambung………