Home BERITA TERBARU MELAWAN ARUS (edisi-9) “Dikadukan ke Pusat”

MELAWAN ARUS (edisi-9) “Dikadukan ke Pusat”

333
0
SHARE

By: targetsumbar.com

Bagiku, membantu aspirasi warga tertindas disana sagatlah mengasyikan, meskipun terkadang serasa lelah, tidaklah jadi persoalan. Dalam keseriusanku berfikir, tiba-tiba Willy muncul didepan pagar biru itu, diantar oleh tukang ojek. Begitu ongkos selesai dibayar, dia melangkah mendekatiku. Sebuah amplop warna putih ia sodorkan.

“Ini surat dari pusat itu bang” ucapnya menyorongkan amplop.

Tanpa disuruh, ia pun duduk dibangku samping sebelah meja. Sedikit santai namun serius, surat tersebut mulai ku baca, Willy memperhatikanku layaknya seperti pria yang sedang memandangi pacarnya. Nah.., selesai sudah kubaca.

“Apa kesimpulan dari isi surat itu bang, kayaknya penting banget” Tanya Willy penasaran.

“Begini Wil, media kita dikadukan oleh Humas perusahaan itu ke pusat. Terkait pemberitaan berturut-turut selama ini, dianggapnya kita tidak konfirmasi. Hebat benar dia membalikan fakta” sahutku menjelaskan.

“Karena ulah politiknya itu, kita di undang pusat untuk datang kesana menyelesaikannya.” Jelasku lagi

“Trus apa rencana abang, apakah kita akan kesana” sahut Willy makin penasaran.

“Sebagai mitra, kita menghargainya. Namun kita dan kawan-kawan tidak mungkin bisa kesana karena terkendala banyak hal”  Jelasku lagi.

Menurutku, pengaduan Kepala Humas perusahaan itu, sepertinya tidaklah beralasan. Hanya mengedapankan ego nya saja. Mungkin Dia kurang memahami peran media dalam menjalankan fungsi controlnya. Meskipun dilaporkan ke pusat, bukan berarti bisa menghentikan pemberitaan selanjutnya. Walau banyak strategi yang bakal dilakukannya, namun kita harus tetap komitmen memperjuangkan aspirasi masyarakat miskin disana.

Peran Humas disebuah perusahaan sangat erat kaitannya dengan eksternal apalagi media social. Apabila Humas tidak professional, maka akan berdampak pada reputasi perusahaan itu sendiri. Mustinya Humas menyadarinya bukan menunjukan sikap egois nya, apalagi berlaku sombong atau semacamnya.

Undang-undang tentang PERS musti dipahami, kode etik jurnalistik..? apalagi. Selagi UU 40 tetap berkibar. Kita dan kawan-kawan tak kan mungkin berhenti berjuang. Aspirasi masyarakat tertindas harus terus disampaikan.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Pasal 28 Mengamanatkan “Kemerdekaan berserikat, berkumpul, mengeluarkan pendapat dan pikiran dengan lisan ataupun tulisan” mesti demengerti juga. Mayarakat  mesti harus tahu.

Peraturan Pemerintah No. 68 Tahun 1999 Tentang Peran Serta Masyarakat Di Dalam Pengawasan Penyelenggara Negara Yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Masyarakat harus mengerti.

Gaya politik yang telah dilakoni Humas itu, bukan sekarang ini saja dilakukannya, berbagai strategi telah dimainkan. Namun tidak semua wartawan bisa dibungkam, tidak semua wartawan bisa dipatahkan.

Hati ini terasa prihatin saja, “apa jadinya negeri ini jika pilar ke-4 demokrasi mengalami kemerosotan moral..?. Semoga kembali muncul wartawan-wartawan yang tangguh dan tidak ‘melacurkan’ diri demi segepok rente dengan memutar balikkan kebenaran”. Seperti yang telah dituliskan oleh salah satu media ternama negeri ini. Aku terkagum saat membacanya. Mudah-mudahan saja, media mereka yang ada disana, bangkit memperjuangkan masyarakat tertindas dimanapun jua.

“Wil, mendingan kamu hubungi kawan-kawan, supaya mereka pada tahu  isi surat ini” usulku ke dia.

“Oke bang”, Willy mengeluarkan HP dari dalam sakunya.

Satu persatu kawan-kawan dihubungi Willy, diminta untuk berkumpul di sebuah warung pinggir pantai dulu itu. Aku menjadi kasihan dengan Dia, hobinya yang senang meliput peristiwa prostitusi tak lagi bisa dilakukan. Waktunya habis tersita hanya untuk meliput persoalan melangit di sekitar lokasi kaki bukit karang itu. Koleksi fhoto binatang kawin tak lagi sempat didokumentasikannya. Meskipun begitu, dia relakan demi membela masyarakat disana.

Umurnya yang masih muda sekira 24 tahun, salah satu wartawan targetsumbar bidang investigasi. Perilakunya terkadang membosankan kawan-kawan. Perjuangannya tak pernah berhenti untuk mencari teman wanita sejati. Tipe uniknya selalu mengejar mimpi, keinginan untuk dapatkan wanita yang kuat mengarungi kehidupan ini, tak pernah didapati. Meskipun gigih, jika hidup penuh hayal, tidaklah ada arti. Anehnya, dia tak pernah menyerah sampai saat ini.

“Wil, koleksi fhoto binatang kawin makin berjibun dong dalam kamera kamu” seloroh ku ingin tahu.

“Eiit.. jangan begitulah bang, sampai kapan sikap abang itu berhenti berprasangka buruk kepadaku” belanya terlihat serius.

“Trus, kamu masih sering menampung curhatan para bencong lagi ggak” ledek ku ke dia.

“Waah, kalau itu mah..? kadang-kadang bang, kasihan juga sich melihat dunia mereka. Meskipun begitu, mereka itu kan perlu diperhatikan juga bang” jelasnya jujur.

“Mendingan kita ngebahas tentang keluhan sekitaran warga kaki bukit karang itu bang” pungkasnya menekan.

Aku tak habis pikir. Kekayaan berlimpah ruah diperut tanah leluhur masyarakat disana, namun mengapa lembar takdir tertulis tak berpihak kepada mereka. Galeri galeri ke alamian alam terpancar hanya sekejap saja, selanjutnya ditutupi debu perusak yang tak pernah diharap. Jalani hidup, tidak senyaman dahulu, rasa takut menghantui pikiran.

Mereka takut banjir bandang, mereka takut akan galodo. Meskipun hidup dihantui ketakutan, mereka hanya bisa berserah. Berharap TUHAN melindungi mereka, melindungi tanah leluhurnya.

“Oii.., kok jadi bengong bang” sentak Willy menghentikan lamunanku.

“Mendingan kita meluncur ke warung pinggir pantai kemaren itu Wil, kita santai disana aja sembari menunggu kawan-kawan” sahutku mengajak.

“Oke bang” timpa Willy.

Dengan mengendarai mator Yamaha metic putih, Willy ku bonceng. Tidak berapa lama berkendara, kami berdua tiba dipinggir pantai pasir jambak itu, menuju warung tempat kami biasa berkumpul. Melewati jalan berpasir putih, mata ku melihat banyaknya pondok-pondok ceper disepanjang pinggir pantai itu. Pemandangan aneh mengagetkan terlihat jelas dikedua bola mataku, tepat di….

Bersambung….