Home BERITA TERBARU Dilemanya Menunggu Haji

Dilemanya Menunggu Haji

253
0
SHARE

Oleh: Ungkapan Hati Seorang Muslim Yang Ingin Berhaji

TS – Saya ingin juga berhaji ke Mekah. Tapi belum punya uang. Saya harus menabung dulu dalam beberapa tahun ke depan. Tapi kata saudara saya yang sudah akan berangkat haji, saya harus mendaftar dulu dari sekarang. Masa tunggu bisa sampai 15 tahun.

Lima belas tahun? Wah, lama nian. Terus, apa kewajiban saya kalau mendaftar sekarang? Kata saudara saya, “Bayar lunas ongkosnya.”

Ups, saya kan tak punya uang. Dengan apa saya bayar lunas? Ah, sudahlah. Mungkin Mekah itu terlalu jauh buat saya yang hanya mengandalkan pendapatan sebagai PNS. Kalau harus berhutang pula untuk melunasi biaya haji yang prakteknya 15 tahun lagi, tentu tidak lucu. Saya akan disebut orang Haji Atang alias haji akibat berhutang.

Namun di balik cara yg menurut saya agak aneh itu, ada satu soal yang mengganjal hati. Bila saya membayar lunas, lalu baru dapat berangkat 8, 10 atau 15 tahun kemudian, berarti uang saya mengendap di bank bertahun-tahun. Saya menambah kucek bank. Sudah pasti. Ribuan orang menambah kucek bank. Lalu uangnya di-apain oleh bank? Disimpan begitu saja atau diputar dulu agar bank dapat pemasukan dari bunganya? Saya yakin tidak ada bank unik yang mau menyimpan saja. Bank tersebut pasti memperanakkan uang itu.

Jika dugaan saya benar (saya berharap sebaliknya) uang saya sudah dilumuri riba sebelum dipergunakan untuk haji. Riba itu dalam pikiran saya seperti kotoran babi. Subhanallah, tentunya uang saya dilumuri kotoran babi bertahun-tahun, lalu saya jadikan untuk naik haji?

Saya tidak bermaksud menghentikan orang berhenti mendaftar haji dan membayar lunas. Bukan itu maksud saya. Tapi mempertanyakan, mengapa harus membayar lunas bertahun-tahun sebelum berhaji kalau maksudnya hanya untuk mendapatkan kuota?

Dilematis betul posisi saya, yang tak punya uang tunai untuk berhaji. Tapi punya uang tunai pun tetap dilematis. Saya akan dipaksa mengikuti aturan yang bertentangan dengan pikiran dan hati nurani saya.

Haruskah saya berhaji dengan uang yang sudah dikotori dengan riba? Semoga ini hanya pemikiran konyol saja.