Home BERITA TERBARU Tuntutan Warga Batu Busuk Terus Berlanjut, Saatnya Semen Indonesia Turun Tangan (Eds...

Tuntutan Warga Batu Busuk Terus Berlanjut, Saatnya Semen Indonesia Turun Tangan (Eds 07)

290
0
SHARE

Padang, targetsumbar.net – Dilanjutkan Hasan Basri (Ninik Mamak Korban), melihat dari kondisi kontruksi kanal sekarang, saluran kanal sulit untuk dibersihkan apabila tersumbat oleh material tanah atau material limbah kayu dan sebagainya, karena bagian atas kanal ditutup. Meskipun ada dibeberapa titik dibuat lobang selebar 2 meter persegi dengan masing-masing jaraknya yang begitu jauh, menurutnya tidak ada manfaatnya. Justru konstruksi semacam itu akan lebih berisiko, sebab bakal memudahkan longsoran kecil dari tebing bukit masuk kedalam lobang kanal, sehingga dengan waktu singkat saluran kanal bisa berakibat tersumbat.

Sebagai bukti, lanjut Hasan Basri, pecahnya dinding kanal di Lubuk Ubi murni akibat tersumbatnya kanal di jarak 200 meter dari titik lokasi pecahnya kanal, karena air berbalik arah. Secara teknis, berbalik arahnya arus air mengakibatkan tekanan air menjadi meningkat dan berlimpah sehingga dinding kanal tidak kuat menahan tekanan air dan berakhir  jebol di Lubuk Ubi.

Mungkin saja Konsultan Perencana yang merubah konstruksi itu merupakan jebolan Universitas Planet Alien. Karena di Planet Alien ada sebuah Universitas STIH (Sekolah Tamat Ilmu Hilang). Jadi wajar saja kalau Konsultan dan Kontraktornya itu tidak mengerti bagaimana teknis yang benar dalam membangun proyek kanal PLTA Kuranji Batu Busuk ini. Sindir Bartius Gaus yang dikenal sebagai sosok Ninik Mamak nan sangat disegani oleh masyarakat Kecamatan Pauh, terutama Kampung Batu Busuk.

Ditempat terpisah, Ghazali Harun, Komandan Komando Khusus MPI (Masyarakat Pancasila Indonesia) Sumbar, Minggu siang (26/03) memberikan masukannya untuk semua pihak. Menurutnya, sudah waktunya Petinggi PT. Semen Indonesia (PTSI) sebagai holding turun langsung melihat kondisi dan menampung berbagai keluhan masyarakat sekitar. Jangan asal terima laporan ABS (Asal Bapak Senang) dari pihak PTSP saja. Karena berbagai persoalan disini merupakan? juga wujud kepedulian PTSI terhadap warga lingkungan sebagai pemegang saham full PTSP.

Menurut seorang sumber di lingkungan PTSP yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan, sepertinya yang kerap merusak management PTSP belakangan ini adalah setingkat Biro. Misalnya Biro Hukum PTSP.

Dilanjutkan Ghazali, berdasarkan pengaduan warga sekitar PTSP yang masuk ke kantor MPI Sumbar melalui anggota kami, semuanya merupakan laporan miring yakni tentang berbagai praktik perselingkuhan hukum. Contohnya, pembebasan tanah warga dijalan baru PTSP menuju tambang 412 ha di tahun 2012 lalu, yang sarat korupsi, serta praktik perselingkuhan hukum lainnya nan telah dan sedang dilakoni mereka itu, ungkapnya.

Mestinya petinggi Biro Hukum di PTSP, lanjut Ghazali, mengayomi masyarakat sekitar bukan menciptakan polemik nan berkepanjangan. Menzolimi sesama manusia adalah perbuatan yang paling hina. Saatnya untuk berbenah diri karena hidup ini tidak abadi, apa yang kita bawa saat koit nanti bila hidup didunia banyak orang yang terzolimi. “Ingat Mati Kawan” jangan se enaknya saja hidup dimuka bumi ini karena azab Tuhan pasti datang, ucap Ghazali

Saya sarankan, saatnya Petinggi PTSI turun menjemput aspirasi masyarakat sekitar karena kondisi hati masyarakat minang sekarang ini sedang berduka atas ludesnya saham PTSP. Karenanya, jangan munculkan lagi polemic baru dan jangan menambah rasa duka baru.

Selanjutnya tuntutan warga Batu Busuk yang terus berlangsung dan masih bergulir di Pengadilan, sudah waktunya Semen Indonesia meyikapinya. Begitu juga tuntutan masyarakat Pauh dan Luki, bagaimana pun peliknya suatu permasalahan, tentunya dapat diselesaikan dengan musyawarah” saran Ghazali.

Tak mungkinlah jika masyarakat diberi saham abu dan limbah nya saja. Begitu juga dengan warga Batu Busuk yang hanya menuntut sesuai Nota Kesepahaman. Janganlah ditambah lagi penderitaan mereka, andaipun mereka menuntut seputar Nota Kesepahaman itu, toh hasil kekayaan bumi nenek moyangnya dikeruk sekehendak hati. “Jadi menurut saya, tuntutan warga itu adalah wajar-wajar saja” sebut Ghazali lagi.

PTSI tidak usah khawatir dengan permaslahan tanah ulayat di Minang ini, yang penting mau berbagi saham dan penambangan sesuai teknis, professional serta mengacu dengan Permen dan Pergub Sumbar. Bila perlu bangun lagi pabrik Indarung lainnya hingga Indarung 10.

PTSI tidak usah ragu, bahan baku semen di Kota Bengkuang ini berlimpah ruah  dan paling berkualitas No 1 dunia. Tapi dengan catatan, pemilik ulayat jangan dikesampingkan, beri juga saham nagarinya, anggaplah nagari sebagai sekuritinya PTSI untuk mengawasi PTSP atau KPKnya PTSI untuk memantau permainan praktik korupsi di PTSP.

“Saya yakin seluruh masyarakat Minang mendukung penuh Investasi PTSI dinegerinya” ucap Ghazali.

Komentar menarik Ghazali terus memberi masukan, dengan fokus awak media lanjut menuliskan komentarnya. Menurut Dia, saudara-saudari kita di Rembang itu mestinya berkunjung dulu atau kunker ke PTSP, agar dalam menyampaikan aspirasi mereka atas penolakan PTSI Rembang tidak dilakukan dengan berdemo semacam itu. Karena yang sangat dirugikan adalah masyarakat awam yang kurang memahami dampak positif kemajuan ekonomi dinegerinya dengan kehadiran PTSI Rembang itu. Buktinya, Saudari Patmi meninggal dunia dengan meninggalkan duka mendalam bagi keluarganya.

“Kan kasihan kita dengan saudara-saudari disana itu, mudah-mudahan mereka bisa berfikir positif menyikapi dan menerima masuknya investasi di daerahnya yakni PTSI” sebut Ghazali.

Jika saudara-saudari kita di Rembang itu mau berkunjung ke PTSP, diharapkan Dirut PTSP berkenan menerima mereka dengan berlapang hati serta mau memberi arahan tentang akan pentingnya investasi di sebuah daerah untuk kemajuan daerah itu sendiri.

Akan tetapi, Petinggi PTSI mesti menatar sekaligus memberi ilmu ke-agamaan untuk petinggi-petinggi setingkat Biro di PTSP ini, agar kedepannya tidak lagi ada kongkalingkong yang bisa merusak citra perusahaan PTSI di mata masyarakat Indonesia karena asetnya bukan milik PTSP lagi. Tutur Ghazali.

Perlu dicatat, keberadaan PTSP sebagai wujud PTSI dinegeri Lubuk Kilangan dan Pauh meski kita akui, bahwa dampaknya sangat positif terhadap kemajuan ekonomi masyarakat Minang, khususnya warga sekitar. Tapi dengan catatan pula, jangan lagi ada perlakuan bersilat lidah dan bermain curang kepada masyarakat, terutama permainan gaya lama Petinggi Biro Hukum PTSP belakangan ini. Jika mereka tidak berbenah diri maka MPI akan melaporkannya ke KPK, ini bukan guyon tapi nanti akan dibuktikan, tegasnya.

Menurut pantauan beberapa LSM yang ada di Sumbar ini, Petinggi Biro Hukum PTSP paling banyak dicurigai bermain curang dengan trik ilmu hukum yang dimiliki dan power nan dipunyainya. Jangankan masyarakat lingkungan, konon katanya Dirut PTSP saja kewalahan menghadapi Biro Hukumnya itu. Tutup Ghazali.

Dilain kesempatan, Bartius Gaus Rajo Gamunyang dan Datuk Penghulu suku, Zulhardi Datuk Rajo Mansoe mengatakan…….. bersambung (TIM)

LEAVE A REPLY